Angin dan Dilema di Menara Kontrol: Mengapa Pesawat Tak Dialihkan ke Laut?

- Selasa, 20 Januari 2026 | 20:50 WIB
Angin dan Dilema di Menara Kontrol: Mengapa Pesawat Tak Dialihkan ke Laut?

Di ruang rapat Komisi V DPR, Senayan, suasana terasa tegang. Ketua Komisi, Lasarus, dengan nada penuh tanya menyoroti keputusan menara kontrol lalu lintas udara (ATC) dalam insiden pesawat ATR 42-500 di Maros. Baginya, ada satu hal yang mengganjal. Kenapa pesawat tak diarahkan berputar di atas laut saja saat cuaca mulai mengamuk? Pertanyaan itu ia lontarkan dalam rapat kerja bersama sejumlah pihak terkait, Selasa lalu.

Menurut sejumlah saksi, cuaca saat itu memang sedang tidak bersahabat. Namun begitu, penjelasan datang dari Dirut AirNav Indonesia, Avirianto suratno. Ia memaparkan, pemilihan runway atau landasan pacu bukanlah hal sembarangan. Semuanya berpatokan pada arah dan kecepatan angin yang bertiup saat itu.

"Jadi di situ anginnya kan dari 250 sampai 290, Pak, dengan kecepatan rata-rata 10 knot. Sedangkan kalau memang kita mau menggunakan runway sebaliknya, 030, itu tendensi tailwind,"

Ucap Avirianto mencoba memberi gambaran. Intinya, angin datang dari arah utara. Kalau pesawat dipaksa mendarat dari arah berlawanan, justru akan terkena angin dari belakang atau tailwind. Hal itu jelas berisiko.

Di sisi lain, faktor angin memang punya pengaruh besar pada performa pesawat. Itulah sebabnya, kata Avirianto, pilihannya jatuh pada runway 21. Pesawat pun diarahkan untuk mendekat dari arah selatan.

"Kalau angin itu berpengaruh sama performance pesawat, sehingga diarahkan ke runway 21, Pak, dari arah selatan,"

Penjelasan itu menggambarkan dilema yang dihadapi di menara kontrol. Pilihan yang, meski akhirnya berujung duka, diambil berdasarkan parameter teknis yang ada di depan mata. Lasarus mungkin masih punya sejumlah tanda tanya, tapi data cuaca dan prosedur penerbangan berbicara lain.

Komentar