Militer Thailand, di sisi lain, membantah keras. Mereka menampik tuduhan menggunakan kekerasan untuk merebut wilayah. Pihak Thailand bersikukuh bahwa kehadiran pasukannya berada di daerah yang sejak dulu memang merupakan wilayah mereka. Klaim dan bantalan, saling silang.
Laporan LICADHO ini memberi detail yang lebih konkret. Menurut mereka, "sejumlah besar rumah dan bangunan" di dua desa di Provinsi Banteay Meanchey, Kamboja, telah dihancurkan dan dibersihkan oleh pasukan Thailand. Aksi penghancuran itu terjadi setelah gencatan senjata 27 Desember.
"Penghancuran rumah-rumah sipil selama konflik bertentangan dengan Konvensi Jenewa dan hukum hak asasi manusia internasional, terlepas dari sisi perbatasan mana rumah-rumah itu berada,"
Begitu bunyi pernyataan tegas LICADHO. Laporan ini, seperti dikutip kantor berita AFP, kembali menyorot betapa rentannya warga sipil terjepit di tengah sengketa yang tak kunjung usai. Situasinya masih tegang, dan nasib ribuan orang yang terdampak sepertinya masih jauh dari kata aman.
Artikel Terkait
Presiden Iran Kecam AS-Israel dalam Telepon dengan Putin, Desak Dukungan Internasional
Malut United Tantang PSM Makassar yang Terpuruk di BRI Liga 1
Kapolri Pimpin Aksi Tanam Jagung Nasional, Targetkan Produksi Hampir 2 Juta Ton
Perang dengan Iran Rugikan Ekonomi Israel Rp50 Triliun per Pekan