Rapat kerja di Senayan, Jakarta, pada Selasa (20/1) itu, sempat hening sejenak. Ketua Komisi V DPR, Lasarus, membuka dengan kabar duka yang menghentak: jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Maros, Sulawesi Selatan. Dia menyampaikan belasungkawa yang mendalam untuk keluarga korban. “Semoga Tuhan memberi kekuatan,” ujarnya.
Di hadapan perwakilan Kemenhub, Basarnas, BMKG, dan sejumlah instansi lain, Lasarus mengajak semua yang hadir untuk berdoa.
“Sebagai umat beriman, marilah kita berdoa sejenak ya. Untuk mendoakan arwah korban dari pesawat yang mengalami kecelakaan di Maros itu.”
Suasana rapat yang awalnya fokus membahas evaluasi Natal dan Tahun Baru, langsung bergeser. Lasarus menekankan, publik butuh kejelasan. Dia pun meminta laporan perkembangan terbaru dari para menteri dan kepala lembaga yang hadir. Mulai dari penanganan evakuasi oleh Basarnas, hingga kondisi cuaca saat kejadian dari BMKG.
Menurutnya, Komisi V sudah kebanjiran pertanyaan dari masyarakat. Mereka juga telah mengumpulkan sejumlah informasi awal. “Saya coba hubungi BMKG,” kata Lasarus, menjelaskan bahwa cuaca saat itu diduga kurang bersahabat dengan adanya awan tebal. Ada juga informasi soal obstakel atau gunung di lokasi jatuh, serta riwayat kerusakan mesin pesawat yang pernah terjadi sebelumnya.
“Beberapa informasi sudah kami kumpulkan. Tapi ya, tentu ini menjadi kewenangan penuh KNKT.”
Di sisi lain, Lasarus sangat menekankan agar Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) segera turun tangan. Investigasi yang menyeluruh dan independen mutlak diperlukan. “Jatuhnya pesawat ini sampai menarik perhatian dunia luar,” ungkapnya, menegaskan urgensi masalah ini.
Ada satu poin menarik yang dia sampaikan. Dari informasi awal yang diterima, pesawat tersebut diduga kuat berbelok dari jalur yang seharusnya. “Sebenernya bukan jalurnya itu,” kata Lasarus. Namun begitu, dia dengan tegas menyatakan DPR tidak akan berspekulasi lebih jauh. Semua analisis teknis harus diserahkan kepada ahlinya di KNKT.
“Kita bicara soal kecelakaan, investigasinya nggak bisa ngarang, Pak. Harus berdasarkan data teknis yang sumbernya bisa dipertanggungjawabkan.”
Pesan terakhirnya jelas: kejadian seperti ini jangan sampai terulang lagi. Lasarus berharap, dengan investigasi tuntas dari KNKT, penyebab pasti bisa ditemukan dan menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Rapat pun kemudian dilanjutkan dengan agenda berikutnya, meski nuansa duka masih terasa menggantung.
Artikel Terkait
PAN Nilai Wacana Pembatasan Masa Jabatan Ketua Umum Parpol Melanggar Kebebasan Berserikat
Pemerintah Luncurkan Program Bedah 15.000 Rumah di 40 Kawasan Perbatasan
Menteri Fadli Zon Dorong Kemitraan Strategis Budaya Indonesia-Prancis, Tindak Lanjuti Borobudur Declaration
Harga Buyback Emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian Kompak Turun