Dunia saat ini benar-benar berantakan. Itu fakta yang dihadapi Indonesia, dan hampir semua negara. Perang di sana-sini terus berkecamuk, sementara di balik layar, negara-negara besar saling sikut demi mengamankan pasokan energi mereka. Situasi ini harus jadi perhatian serius kita. Mengapa? Karena di perut bumi Nusantara ini, tersimpan kekayaan energi yang luar biasa melimpah.
Lihat saja, tatanan norma dan etika global yang dibangun puluhan tahun, seolah runtuh dalam sekejap. Segelintir negara dengan seenaknya menginjak-injak hukum internasional. Lembaga multilateral seperti PBB, yang seharusnya jadi penjaga perdamaian, martabatnya terinjak-injak. Fungsinya hampir tak terdengar lagi.
Prinsip non-intervensi, yang jadi fondasi hubungan antar bangsa, diabaikan begitu saja. Dengan senjata modern di tangan, aksi intervensi militer dilakukan secara arogan. Kedaulatan sebuah negara seakan tak ada artinya.
Nyatanya, kesepakatan internasional itu kini kehilangan taring. Di awal 2026 ini, konflik bersenjata masih menghiasi banyak sudut dunia. Koalisi pimpinan Arab Saudi masih menyerang Yaman. Timur Tengah tetap memanas oleh konflik Israel-Hamas yang tak kunjung padam, meski gencatan senjata sudah disepakati.
Perang Rusia-Ukraina juga masih berlanjut. Bahkan di Asia Tenggara, ketegangan perbatasan masih memicu baku tembak antara Kamboja dan Thailand. Baru-baru ini, Thailand Selatan yang rawan konflik diguncang serangkaian ledakan bom di 11 SPBU dalam waktu hanya 40 menit.
Di sisi lain, benua Afrika seperti tak pernah lepas dari instabilitas. Konflik terus berkobar di wilayah Sahel, Tanduk Afrika, dan Afrika Tengah. Kehadiran militer asing terutama dari negara-negara besar justru sering memperkeruh keadaan. Kehadiran mereka bukan cuma soal misi kemanusiaan, tapi lebih seperti pamer kekuatan dan pembentukan aliansi baru.
Ambil contoh, ketika Rusia, Tiongkok, dan Iran gelar latihan militer gabungan 'Will For Peace 2026' di Afrika Selatan, Amerika Serikat langsung merespons dengan intervensi militer ke Nigeria, dengan dalih memerangi ISIS. Pola yang sama terlihat saat AS mengintervensi Venezuela, sekutu Rusia dan Tiongkok. Dari sini, motifnya jadi jelas: perebutan sumber energi. Negara-negara adidaya itu berlomba mengamankan cadangan untuk kebutuhan mereka sendiri.
Setelah menyerang dan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro di awal Januari 2026, AS dengan terang-terangan menyatakan telah mengamankan cadangan minyak Venezuela yang mencapai 303 miliar barel. Mereka mengambil alih kendali produksi dan penjualannya.
Artikel Terkait
Tim DVI Sulsel Rampungkan Data Antemortem 8 Keluarga Korban ATR 42-500
IPDN Didesak Jadi Pusat Riset Kebijakan, Dukung Indonesia Emas 2045
Trump Geram Gagal Nobel, Kembali Incar Greenland
Perpanjang SIM Kini Bisa dari Rumah, Begini Langkah dan Biayanya di 2026