Nilai TKA Jeblok: Alarm Terlambat dari Krisis Belajar yang Telah Mengendap Puluhan Tahun

- Senin, 19 Januari 2026 | 13:15 WIB
Nilai TKA Jeblok: Alarm Terlambat dari Krisis Belajar yang Telah Mengendap Puluhan Tahun

Soal TKA sendiri sebenarnya cermin yang jujur. Tes itu menuntut penalaran bertahap, pemahaman konsep, konsentrasi, dan kemampuan menghubungkan informasi. Kalau pengalaman belajar harian anak cuma latihan hafalan dan cari jawaban instan, ya wajar hasilnya jeblok. Ini bukan kegagalan siswa, tapi bukti ketidakcocokan antara cara kita mengajar dan cara kita menilai.

Di titik inilah, kita mungkin bisa belajar dari pendekatan International Baccalaureate (IB). Bukan untuk dijadikan simbol sekolah elit, tapi sebagai contoh desain pembelajaran yang tepat sasaran.

Inti dari IB sederhana: siswa ditempatkan sebagai pembelajar aktif, bukan penghafal pasif. Di kelas, mereka diajak bertanya, berdebat, merefleksikan. Mereka dibiasakan baca teks panjang, mencerna isinya, lalu menyampaikan pendapat dengan argumen yang runtut.

Proses berpikir ini bahkan dinilai secara terbuka. Jadi siswa paham bagaimana cara berpikir yang baik, bukan cuma tahu jawaban mana yang benar.

Pendekatan semacam ini krusial di era serba cepat seperti sekarang. Anak justru butuh ruang untuk berpikir lebih dalam dan tenang. Ambil contoh mata pelajaran Theory of Knowledge (TOK) dalam IB. Di sini, siswa diajak mengulik cara berpikir mereka sendiri. Mereka belajar mempertanyakan asal-usul pengetahuan, cara menguji kebenarannya, dan relevansinya di kehidupan nyata.

Latihan semacam ini sangat relevan dengan kelemahan yang terlihat di TKA. Banyak siswa bisa kerjakan soal contoh, tapi langsung bingung saat bentuk soal diubah. TOK melatih mereka memahami alasan di balik jawaban, sehingga lebih siap menghadapi variasi soal yang menuntut fleksibilitas.

Tentu, solusinya bukan mem-B-kan semua sekolah. Nilai utamanya ada pada prinsip-prinsipnya: pembelajaran berbasis pertanyaan, penugasan yang menuntut nalar, serta penilaian yang menghargai proses berpikir. Itu yang perlu kita adopsi.

Pada akhirnya, nilai TKA rendah bukan cerita tentang generasi yang gagal. Ini kisah tentang sistem yang keliru mengukur keberhasilan. Kita terlalu sibuk menghitung kehadiran, dan lupa mengecek pemahaman.

Peringatan Pritchett sudah ada jauh sebelumnya. Pandemi mengguncang, teknologi mempercepat, tapi akar masalahnya tua usianya.

Kabar baiknya, karena ini masalah desain sistem, berarti masih bisa diperbaiki. Caranya? Kembalikan pendidikan pada hakikatnya: melatih cara berpikir. Bukan sekadar menuntaskan tahun ajaran. Dengan begitu, kita tak perlu menunggu seribu tahun untuk melihat perubahan. Itu bisa dimulai sekarang. Asal kita punya niat dan keberanian untuk memulainya.

Dr. Devie Rahmawati, CICS
Wakil Pembina Kader Bangsa Foundation (YPKBI)


Halaman:

Komentar