Nilai TKA Jeblok: Alarm Terlambat dari Krisis Belajar yang Telah Mengendap Puluhan Tahun

- Senin, 19 Januari 2026 | 13:15 WIB
Nilai TKA Jeblok: Alarm Terlambat dari Krisis Belajar yang Telah Mengendap Puluhan Tahun

Saat nilai Tes Kompetensi Akademik (TKA) rendah tahun lalu, reaksi publik bisa ditebak: cemas, saling tuding, lalu buru-buru cari kambing hitam. Pandemi, media sosial, bahkan anak-anak sendiri jadi sasaran. Seolah-olah masalah ini muncul tiba-tiba dari ruang hampa.

Padahal, kalau kita mau jujur membaca data, cerita sebenarnya jauh lebih panjang. Krisis belajar ini bukan fenomena satu-dua tahun. Hasil TKA itu cuma alarm keras dari masalah yang sudah mengendap puluhan tahun di bawah permukaan sistem pendidikan kita.

Jauh sebelum pandemi dan gawai mendominasi hidup anak-anak, tepatnya lebih dari satu dekade lalu, ekonom pendidikan Harvard Lant Pritchett sudah membunyikan sirene. Kajiannya terhadap data Indonesia periode 2000-2014 mengungkap sesuatu yang menggelisahkan.

Meski lama sekolah meningkat signifikan, kemampuan numerasi dasar nyaris mandek total. Persentase anak muda 18-24 tahun yang bisa menjawab soal aritmetika sederhana, cuma naik tipis dari 31,2% menjadi 31,4% dalam rentang 14 tahun. Hampir tidak bergerak.

Untuk menggambarkan betapa pelannya kemajuan ini, Pritchett punya ilustrasi yang menohok. Dengan laju perubahan seperti saat itu, mencapai target kemampuan dasar yang sederhana saja bisa memakan waktu lebih dari seribu tahun.

"At the current rate of change, achieving this modest goal would take over a thousand years... Indonesian youth would be ready for the 21st century in the 31st century."

Angka 'seribu tahun' itu tentu bukan ramalan literal. Itu cara dia sebagai akademisi menekankan betapa sistem kita bergerak terlalu lambat untuk zaman sekarang. Intinya, kita ketinggalan kereta. Jauh.

Nah, poin krusial dari Pritchett sebenarnya terletak pada diagnosa sistemiknya. Indonesia sukses memperluas akses sekolah, menaikkan anggaran, tapi semua itu gagal diterjemahkan jadi peningkatan kapasitas berpikir. Di sinilah masalahnya.

Pendidikan kita terlalu lama terjebak dalam urusan administratif. Pokoknya hadir, duduk, selesaikan silabus, lalu lulus ujian. Titik. Padahal, belajar yang sejati itu proses manusiawi yang kompleks. Butuh pemahaman konsep, diskusi, latihan bertahap, dan guru yang bisa memfasilitasi proses berpikir bukan cuma menyuapi materi.

Ketika sistem lebih mementingkan kepatuhan daripada pemahaman, yang menumpuk ya cuma ijazah. Bukan kemampuan nalar.

Lalu, bagaimana dengan pandemi dan gawai? Menurut saya, dua hal ini cuma pengganda masalah, bukan akar masalah. Memang, hampir semua negara alami learning loss akibat COVID-19. Tapi dampaknya beda-beda.

Negara dengan fondasi belajar kuat cuma terganggu sementara. Sementara negara yang sejak awal sudah krisis seperti yang diperingatkan Pritchett akan makin terperosok. Digitalisasi malah memperparah keadaan. Kebiasaan baca panjang makin punah, latihan berpikir mendalam kalah sama konten kilat, dan belajar sering sekadar jadi ritual menuntaskan tugas.

Jadi, media sosial dan teknologi bukan biang kerok nilai TKA rendah. Mereka cuma memperjelas dan mempercepat masalah lama yang sudah mengakar.

Soal TKA sendiri sebenarnya cermin yang jujur. Tes itu menuntut penalaran bertahap, pemahaman konsep, konsentrasi, dan kemampuan menghubungkan informasi. Kalau pengalaman belajar harian anak cuma latihan hafalan dan cari jawaban instan, ya wajar hasilnya jeblok. Ini bukan kegagalan siswa, tapi bukti ketidakcocokan antara cara kita mengajar dan cara kita menilai.

Di titik inilah, kita mungkin bisa belajar dari pendekatan International Baccalaureate (IB). Bukan untuk dijadikan simbol sekolah elit, tapi sebagai contoh desain pembelajaran yang tepat sasaran.

Inti dari IB sederhana: siswa ditempatkan sebagai pembelajar aktif, bukan penghafal pasif. Di kelas, mereka diajak bertanya, berdebat, merefleksikan. Mereka dibiasakan baca teks panjang, mencerna isinya, lalu menyampaikan pendapat dengan argumen yang runtut.

Proses berpikir ini bahkan dinilai secara terbuka. Jadi siswa paham bagaimana cara berpikir yang baik, bukan cuma tahu jawaban mana yang benar.

Pendekatan semacam ini krusial di era serba cepat seperti sekarang. Anak justru butuh ruang untuk berpikir lebih dalam dan tenang. Ambil contoh mata pelajaran Theory of Knowledge (TOK) dalam IB. Di sini, siswa diajak mengulik cara berpikir mereka sendiri. Mereka belajar mempertanyakan asal-usul pengetahuan, cara menguji kebenarannya, dan relevansinya di kehidupan nyata.

Latihan semacam ini sangat relevan dengan kelemahan yang terlihat di TKA. Banyak siswa bisa kerjakan soal contoh, tapi langsung bingung saat bentuk soal diubah. TOK melatih mereka memahami alasan di balik jawaban, sehingga lebih siap menghadapi variasi soal yang menuntut fleksibilitas.

Tentu, solusinya bukan mem-B-kan semua sekolah. Nilai utamanya ada pada prinsip-prinsipnya: pembelajaran berbasis pertanyaan, penugasan yang menuntut nalar, serta penilaian yang menghargai proses berpikir. Itu yang perlu kita adopsi.

Pada akhirnya, nilai TKA rendah bukan cerita tentang generasi yang gagal. Ini kisah tentang sistem yang keliru mengukur keberhasilan. Kita terlalu sibuk menghitung kehadiran, dan lupa mengecek pemahaman.

Peringatan Pritchett sudah ada jauh sebelumnya. Pandemi mengguncang, teknologi mempercepat, tapi akar masalahnya tua usianya.

Kabar baiknya, karena ini masalah desain sistem, berarti masih bisa diperbaiki. Caranya? Kembalikan pendidikan pada hakikatnya: melatih cara berpikir. Bukan sekadar menuntaskan tahun ajaran. Dengan begitu, kita tak perlu menunggu seribu tahun untuk melihat perubahan. Itu bisa dimulai sekarang. Asal kita punya niat dan keberanian untuk memulainya.

Dr. Devie Rahmawati, CICS
Wakil Pembina Kader Bangsa Foundation (YPKBI)

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar