Iran kembali memanas. Sejak akhir 2025, jalanan di berbagai kota bergolak oleh aksi unjuk rasa yang tak kunjung reda. Awalnya, ini soal ekonomi yang terpuruk inflasi menggila, nilai mata uang terjun bebas, dan hidup semakin sulit. Tapi rasa frustrasi itu dengan cepat berubah. Kini, sorotan beralih ke struktur kekuasaan itu sendiri, bahkan menyentuh pucuk pimpinan tertinggi, Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei.
Di tengah keriuhan ini, muncul lagi nama yang lama menghilang: Reza Pahlavi. Dia adalah putra mahkota terakhir dari era monarki, yang digulingkan oleh Revolusi Islam 1979. Kini, dari pengasingannya, suaranya terdengar kembali. Ketegangan antara dua simbol ini sang pemimpin teokratis dan sang putra mahkota bukan cuma pertikaian personal. Ini adalah cermin dari pertarungan ideologi yang sudah mengakar jauh di tubuh masyarakat Iran.
Protes kali ini meluas dengan cepat, mungkin yang tercepat dalam beberapa dekade. Menyebar ke lebih dari 30 provinsi. Ribuan orang turun ke jalan. Situasinya mencekam. Laporan-laporan dari dalam menyebut langkah keras pemerintah: internet diputus, aparat dikerahkan. Korban berjatuhan, baik dari kalangan demonstran maupun aparat. Angka pastinya simpang siur, tapi kelompok pemantau independen menyebut jumlah korban tewas bisa mencapai ribuan. Sungguh tragis.
Yang menarik, tuntutan rakyat telah bergeser. Dari sekadar menuntut perbaikan harga sembako, kini terdengar teriakan yang lebih berani. Slogan "Death to the Dictator" bergema di Tehran dan kota-kota lain. Pesannya jelas: ini sudah bukan lagi soal roti, tapi soal perubahan politik yang mendasar.
Dua Wajah, Dua Masa Depan
Nama Reza Pahlavi kini ramai dibicarakan. Dari tempat pengasingannya, dia tak henti menyuarakan penentangan. Seruannya agar rakyat terus berdemonstrasi disambut, bahkan namanya diteriakkan di beberapa aksi. Dia tak segan menyerang kebijakan Khamenei, terutama soal keterlibatan Iran di konflik regional.
Yang lebih menohon, Pahlavi secara terbuka memanggil tentara dan polisi untuk membelot. "Bergabunglah dengan rakyat," katanya. Dia juga sudah menyiapkan semacam peta jalan, 100-day transition plan, sebuah proposal transisi jika rezim saat ini runtuh. Ini sinyal bahwa oposisi tidak hanya berteriak, tapi juga mulai merancang alternatif sebuah tawaran pemerintahan yang lebih plural.
Di seberang sana, Ali Khamenei tetap berdiri kokoh. Posisinya sebagai Supreme Leader adalah inti dari seluruh sistem teokratis Iran, jauh di atas presiden mana pun. Legitimasilah yang dipertahankan mati-matian. Menghadapi gelombang protes, dia dan pendukungnya terus bersuara lantang tentang kedaulatan nasional. Setiap kritik terhadap rezim dianggap sebagai buah dari "campur tangan asing", terutama dari Amerika Serikat.
Narasi anti-intervensi ini memang warisan dari Revolusi 1979. Sejak Ayatollah Khomeini memimpin revolusi, perlawanan terhadap pengaruh Barat menjadi pilar ideologi negara. Khamenei, sebagai penerus Khomeini, adalah simbol sekaligus penjaga warisan itu. Tapi kini, simbol itu sendiri yang digugat oleh rakyatnya sendiri.
Artikel Terkait
Kemenkum HAM Masih Tunggu Delapan Gugatan Lain ke MK Soal KUHP Baru
Jenazah Raib, Makam Tujuh Tahun Dibongkar di TPU Serang
Sudirman Said Kembali Diperiksa Kejagung Terkait Kasus Petral
Sidang Korupsi Chromebook Panas, Debat Kamera dan Laporan BPKP Picu Ketegangan