Bagi Kapolda, pohon bukanlah sekadar makhluk hidup biasa. Ia adalah simbol masa depan.
"Satu pohon adalah masa depan bagi umat manusia, khususnya Riau dan Indonesia. Harapan ini mungkin tidak terlihat hari ini, tapi akan terasa lima hingga sepuluh tahun mendatang," tambahnya.
Namun begitu, semua wacana ini tak akan berarti jika cuma jadi omongan. Herry mendorong agar kewajiban moral itu bertransformasi jadi kebiasaan sehari-hari. Kebiasaan yang akhirnya membentuk karakter kuat untuk mencintai lingkungan.
Menariknya, ia melihat benih karakter Homo Ekologicus ini sebenarnya sudah lama tertanam di Riau. Nilai-nilai itu hidup dalam Tunjuk Ajar Melayu, tersirat dalam syair dan pantun tradisional. Kearifan lokal itu, kata dia, jangan sampai punah.
Herry pun mengutip satu filosofi yang menggambarkan pohon sebagai pelindung kehidupan: "Jadilah pohon yang kuat dengan batang yang kuat untuk tempat bersandar, dahan yang kuat untuk bergantung, daun yang lebat untuk berlindung."
Melalui momentum diskusi di tengah hutan kota itu, Kapolda Riau berharap generasi muda bisa menghidupkan kembali kearifan nenek moyang. Menjadikannya fondasi kokoh untuk menjaga Bumi Lancang Kuning tetap hijau dan lestari untuk anak cucu nanti.
Artikel Terkait
Kediaman Kosong di Bogor, Menanti Kabar dari Gunung Bulusaurung
Tanggul Jebol dan Air Pasang Lumpuhkan 98 Perjalanan Kereta di Pekalongan
Museveni Kembali Berkuasa di Uganda, Oposisi Menolak Hasil Pemilu Penuh Kontroversi
Andre Rosiade Bagi 1.000 Sembako dan Jenguk Nenek Korban Tambang Ilegal di Pasaman