"Kayak gini tiap hari, dari sana (arah utara) padat, jalan kecil, lewat banyak. Orang pinginnya buru-buru jadi kayak gitu," ujar Herman (55), seorang warga yang ditemui di lokasi.
Menurutnya, jalan yang sempit tak sanggup menampung kepadatan lalu lintas. Tapi perilaku ugal-ugalan para pelawan arah ini justru jadi penyumbang kemacetan utama. Dia menambahkan, arus dari selatan ke utara sering macet karena jalannya terhalang kendaraan yang melawan arus.
"Kalau jam sibuk macet, gara-gara itu yang lawan arah. Dari sana (selatan) mau belok susah, mau lurus jalannya nyempit," keluhnya.
Warga lain, Rahman (38), punya cerita serupa. Menurutnya, kedisiplinan hanya muncul sesaat saat ada polisi. Itu pun tidak sepenuhnya ditaati.
"Kemarin itu ada polisi. Itu pun masih pada ngeyel lewat. Kalau udah nggak ada, ya sudah biasa kayak gini lagi," jelas Rahman.
Jadi, begitu aparat pergi, semua kembali seperti semula. Pelawan arah kembali leluasa, dan kekacauan pun kembali menghiasi persimpangan itu. Sebuah siklus yang sepertinya tak ada habisnya.
Artikel Terkait
Pegawai Toko Rempah di Cisarua Tewaskan Majikan Pasutri Pakistan
Prabowo Pimpin Silaturahmi Langka, Hadirkan SBY dan Jokowi di Istana
Pembalap MotoGP Mir dan Marini Menyelami Budaya Bali di Sela Jadwal Balap
OJK Catat Kredit Perbankan Tumbuh 9,96% di Awal 2026, Kredit Investasi Melonjak 22,38%