Di sisi lain, gelombang demonstrasi di Iran tampaknya belum mereda. Menurut pengamatan sejumlah pakar dan kesaksian dari lapangan, aksi protes anti-pemerintah kali ini mencapai skala yang belum pernah terlihat dalam 47 tahun terakhir. Situasinya benar-benar panas.
Keributan di jalanan berbagai kota Iran ini menarik perhatian dunia, termasuk Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump tak tinggal diam. Dia mengancam akan “menyerang dengan sangat keras ke titik terlemah” jika otoritas Iran bertindak represif terhadap para demonstran.
“AS siap membantu,” tambahnya.
Namun begitu, pihak Iran tak gentar. Mereka membalas dengan sumpah akan menyerang sekutu dan kepentingan AS di kawasan itu. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, punya pandangan lain soal unjuk rasa ini. Menurutnya, semua ini adalah hasil manipulasi dari “musuh-musuh Iran”.
Jadi, suasana di kawasan itu benar-benar tegang. Dan keputusan Selandia Baru untuk menarik diplomatnya mungkin hanya awal dari langkah-langkah serupa negara lain.
Artikel Terkait
Ayatollah Alireza Arafi Ditunjuk Masuk Dewan Kepemimpinan Sementara Iran
Dubes Iran Kecam Serangan AS-Israel Hancurkan Rumah Sakit dan Sekolah di Ramadan
Kejagung Geledah 20 Lokasi di Medan dan Riau untuk Usut Korupsi Limbah Sawit
Pemerintah Pastikan Stok BBM Aman 20 Hari ke Depan Meski Selat Hormuz Ditutup