BMKG Naikkan Status: Bibit Badai di Selatan Jawa-Bali Berpotensi Jadi Siklon Tropis

- Rabu, 17 Desember 2025 | 10:48 WIB
BMKG Naikkan Status: Bibit Badai di Selatan Jawa-Bali Berpotensi Jadi Siklon Tropis

Hujan deras yang mengguyur Bali dan beberapa wilayah Jawa belakangan ini ternyata ada kaitannya dengan sebuah gangguan cuaca di Samudra Hindia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru saja mengumumkan perkembangan terbaru dari Bibit Siklon Tropis 93S. Yang cukup mengkhawatirkan, potensinya untuk berubah menjadi siklon tropis penuh alias badai dahsyat, kini meningkat dari kategori rendah menjadi sedang-tinggi.

Menurut pantauan BMKG, sistem tekanan rendah ini mulai terpantau terbentuk sejak 11 Desember lalu. Posisinya saat ini diperkirakan masih berkutat di perairan Samudra Hindia, tepatnya di sebelah selatan Jawa Timur dan Bali.

“Prediksi: Sistem Bibit Siklon Tropis 93S memiliki peluang sedang-tinggi untuk menjadi Siklon Tropis dalam periode 24 jam ke depan,”

demikian pernyataan resmi BMKG yang dirilis Rabu (17/12).

Lalu, apa dampaknya buat kita? BMKG memperingatkan bahwa bibit badai ini bakal membawa dampak cuaca ekstrem. Hujan dengan intensitas sedang sampai lebat berpotensi mengguyur wilayah-wilayah seperti Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, hingga bagian barat Nusa Tenggara Timur.

Tak cuma hujan. Angin kencang juga perlu diwaspadai, terutama untuk kawasan pesisir selatan yang membentang dari Jawa Barat sampai Bali. Untuk para nelayan dan yang punya aktivitas di laut, bersiaplah. Gelombang laut dengan ketinggian 1.25 hingga 2.5 meter berpotensi terjadi di perairan Samudra Hindia, dari selatan Banten hingga mendekati Pulau Sumba.

Sebagai informasi, bibit siklon tropis pada dasarnya adalah embrio badai. Ia adalah sistem tekanan udara rendah yang bisa saja menguat, tumbuh, dan akhirnya menjadi siklon tropis yang jauh lebih kuat dan berbahaya.

Dampaknya sudah terasa pekan lalu. Menurut sejumlah laporan, hujan lebat yang sempat melanda Bali dan membanjiri beberapa titik karena drainase yang kurang optimal itu merupakan dampak tidak langsung dari kehadiran 93S ini. Jadi, situasinya memang perlu terus dipantau.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar