Genangan air masih menyelimuti Kecamatan Patia dan Pagelaran di Pandeglang. Sudah hampir seminggu, situasinya tak kunjung membaik. Yang jadi persoalan serius sekarang bukan cuma banjirnya, tapi krisis air bersih yang mulai dirasakan warga.
Di lokasi, suara Muiz, seorang warga Patia, terdengar prihatin. Ia ditemui Jumat lalu.
"Hampir satu Minggu ini banjir belum surut," ujarnya.
Menurut Muiz, kondisi ini kemungkinan masih akan berlanjut. Curah hujan di kawasan Patia dan Pagelaran masih cukup intens, dan itu bikin semua orang was-was. Kekhawatiran terbesarnya adalah air akan naik lagi jika hujan tak berhenti.
"Kalau hujan selama dua hari, khawatir air naik kembali, pasti risih," tuturnya.
Persoalan lain yang mengintai adalah kesehatan. Beberapa warga sudah mulai mengeluh gatal-gatal. Sumber air bersih pun jadi masalah akut. Sumur-sumur warga yang biasa diandalkan kini berwarna cokelat keruh, tercampur lumpur banjir, sehingga sama sekali tak layak pakai.
"Warga mendapatkan pasokan air bersih dari sumur, sekarang air sumur berwarna cokelat nggak bisa digunakan," jelas Muiz.
"Warga juga sudah ada yang mulai gatal-gatal," imbuhnya lagi.
Cerita serupa datang dari Sapiah, seorang nenek berusia 62 tahun. Wilayah tempat tinggalnya masih tergenang akibat luapan Sungai Cilemer. Bagi Sapiah dan tetangga-tetangganya, selain makanan, air bersih adalah kebutuhan paling mendesak saat ini.
"Kami enggak punya air bersih, airnya di sumur kotor jadi keruh," keluhnya.
Ia punya harapan sederhana namun mendesak: agar ada langkah konkret dari pihak berwenang untuk meringankan beban mereka. Bantuan air bersih, menurutnya, adalah hal yang paling dibutuhkan.
"Mudah-mudahan ada yang nyumbang, terutama air bersih," harap Sapiah.
Nampaknya, setelah air surut, perjuangan warga di dua kecamatan ini belum benar-benar usai. Mereka masih harus berhadapan dengan dampak lanjutan yang tak kalah pelik.
Artikel Terkait
Lima Anggota Keluarga Tewas Terjebak dalam Kebakaran di Grogol Petamburan
Kisah Nyaris Tewas: Prajurit Kopassus Terseret Arus dan Tersesat di Hutan Papua
Menteri Brian Yuliarto Tegaskan Tak Ada Toleransi untuk Kekerasan Seksual di Kampus
Iran Tutup Kembali Selat Hormuz, Ancam Tembak Kapal yang Mendekat