Alhamdulillah. Rasanya hanya kata itu yang pas untuk mengawali tulisan ini. Sebuah perayaan yang lahir dari kebersamaan, di mana semua pihak berdiri sejajar tanpa ada yang mendominasi. Itulah suasana yang kami rasakan di Lapangan Desa Butuh, Boyolali, saat memperingati Hari Desa Nasional 2026. Acara ini jelas bukan sekadar seremoni belaka. Lebih dari itu, ia adalah sebuah peristiwa batin, sebuah catatan sejarah kecil yang punya makna sangat besar untuk masa depan desa-desa di seluruh Indonesia.
Kamis pagi, 15 Januari 2026, cuaca cerah seolah ikut mendukung. Dari sebuah desa di Boyolali ini, kami menyaksikan sendiri antusiasme yang luar biasa. Para kepala desa, anggota BPD, perangkat desa, hingga masyarakat biasa datang dengan raut wajah penuh harapan. Haru itu nyata selama ini desa seringkali cuma dianggap pelengkap, tapi hari itu, desa jadi pusat perhatian. Pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten duduk bersama, merayakannya dengan penuh kesederhanaan meski sarat makna.
Di sisi lain, Hari Desa Nasional ini sebenarnya adalah ikhtiar negara untuk menggali potensi desa lebih dalam. Ini juga selaras dengan Asta Cita Presiden, khususnya poin tentang membangun dari desa dan dari bawah. Desa kini bukan lagi objek, melainkan subjek utama pembangunan. Kerangka ekonomi dan budayanya diarahkan untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan yang merata. Di sinilah optimisme itu muncul: desa akan jadi tulang punggung negara, fondasi masa depan yang kokoh.
Rangkaian acaranya sendiri memberi banyak ruang untuk apresiasi. Penghargaan diberikan kepada desa-desa berprestasi dari berbagai kategori, juga kepada program-program berbasis desa dari berbagai kementerian dan daerah. Tapi ini bukan soal mencari yang terhebat. Ini lebih pada pengakuan bahwa kerja sunyi di desa selama ini akhirnya dilihat dan dihargai. Momentum puncaknya adalah Penandatanganan Deklarasi Boyolali, yang jadi simbol komitmen bersama untuk terus memperkuat pembangunan desa dengan hati.
Namun begitu, perasaan yang hadir tak melulu bahagia. Ada kesedihan yang terselip. Senang karena desa akhirnya dapat tempat terhormat. Tapi sedih juga, karena kita paham betul betapa beratnya pengabdian di desa. Banyak kepala desa dan perangkatnya bekerja dalam keterbatasan, menghadapi tekanan dan salah paham. Tapi peringatan seperti ini bisa jadi penguat batin. Ia membuktikan bahwa pengabdian mereka tidak sia-sia. Ketika desa bersatu, Indonesia akan tumbuh kuat.
Artikel Terkait
Unsri Skorsing Mahasiswa PPDS Terbukti Lakukan Perundungan
Guru SMK di Jambi Dikeroyok Murid, Komisi X DPR Soroti Krisis Karakter
Trump Bentuk Dewan Perdamaian Gaza, Klaim Paling Bergengsi yang Pernah Ada
Kampus Kedokteran Unsri Dikecam, Senior PPDS Bully Junior Cuma Dapat Sanksi Tempel