Mediasi Berlarut, Guru SMK di Jambi Absen untuk Kedua Kalinya

- Jumat, 16 Januari 2026 | 00:30 WIB
Mediasi Berlarut, Guru SMK di Jambi Absen untuk Kedua Kalinya

Konflik antara guru dan siswa di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur akhirnya melibatkan pihak berwajib. Polres setempat bersama Dinas Pendidikan Provinsi Jambi turun tangan, mencoba mendamaikan kedua belah pihak lewat jalur mediasi.

Menurut sejumlah saksi, proses mediasi itu digelar di ruang majelis guru. Ruangan itu tak hanya diisi oleh perwakilan Disdik, tapi juga dihadiri aparat TNI, kejaksaan, dan tentu saja kepolisian. Upaya ini dilaporkan oleh Antara pada Kamis (15/1/2026).

Kapolres Tanjung Jabung Timur, AKBP Ade Chandra, mengungkapkan komitmennya.

"Kami berupaya mencari solusi terbaik bagi semua pihak," katanya. "Tujuannya jelas, agar permasalahan ini bisa diselesaikan dengan adil dan situasi kembali kondusif."

Ade Chandra juga menyatakan penyesalan mendalam atas insiden yang dinilainya mencoreng dunia pendidikan. Untuk memahami duduk perkara sebenarnya, penyelidikan mendalam masih terus dilakukan oleh pihaknya.

Namun begitu, ada satu hal yang mengganjal dalam mediasi tersebut. Guru yang terlibat, Agus Saputra, ternyata absen. Ini sudah kedua kalinya ia tidak memenuhi undangan untuk berdamai.

Dampaknya langsung terasa. Aktivitas belajar mengajar di SMK Negeri 3 Berbak sempat terhenti, suasana sekolah mendadak hening. Harmonis, Kepala Bidang Pembinaan SMK Disdik Jambi, mengaku sangat menyayangkan kejadian ini.

Ia menegaskan, pihaknya akan mengevaluasi tuntutan yang muncul dari siswa dan beberapa guru. Inti tuntutannya, agar Agus Saputra tidak lagi mengajar di sekolah itu.

"Evaluasi akan kami lakukan segera," ungkap Harmonis. "Tentu dengan mengikuti semua ketentuan dan mekanisme yang ada."

Cerita dari sisi siswa lain lagi. Seorang siswa yang mengaku sebagai korban bercerita, awalnya cuma salah paham biasa di kelas. Tapi situasi memanas dengan cepat, emosi meledak, dan akhirnya berujung pada aksi kekerasan yang tak terkendali.

Harapan terakhir kini ada di pundak pihak sekolah. Mereka berharap persoalan ini cepat selesai, agar denyut kehidupan sekolah suara guru mengajar, riuh rendah siswa kembali normal seperti sedia kala.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar