Tak cuma itu. Sekitar 36 persen siswa bahkan mempertanyakan kelayakan makanannya. Mereka menemui makanan berbau tak sedap, kondisi yang tidak layak konsumsi, atau bahkan sudah dalam keadaan busuk.
"Kemudian hampir 36 persen mereka mempersoalkan soal kelayakan makanan. Jadi mereka misalnya menemukan makanan yang berbau, kemudian tidak layak konsumsi dan bahkan sudah busuk," sambungnya.
Melihat situasi ini, KPAI punya sejumlah masukan untuk pemerintah, terutama Badan Gizi Nasional. Rekomendasinya berfokus pada perbaikan tata kelola dan yang menarik: melibatkan anak-anak dalam prosesnya.
Misalnya, anak bisa dilibatkan mulai dari perencanaan menu, edukasi gizi dengan pendekatan teman sebaya, sampai evaluasi program di sekolah. Mekanisme diskusi dan survei umpan balik yang aman bagi murid dinilai penting.
"Pelibatan bermakna anak sekolah dalam semua proses makan dan gizi gratis mulai dari perencanaan menu, pemberian edukasi gizi dengan pendekatan teman sebaya, hingga evaluasi pelaksanaan MBG di sekolah melalui mekanisme diskusi maupun survei umpan balik yang bisa memberikan rasa aman kepada murid," imbuh Jasra.
Jadi, program yang seharusnya menyehatkan ini ternyata menyisakan persoalan serius. Butuh penanganan ekstra, bukan sekadar melanjutkan program begitu saja.
Artikel Terkait
RUU Perampasan Aset: Ujian Nyata Komitmen DPR Berantas Korupsi
Cak Imin Peringatkan Ancaman Kemiskinan dan Tergerusnya Kelas Menengah Akibat Bencana Sumatera
Genangan Air Kembali Serbu Desa Idaman, Ratusan Jiwa Terdampak
Minneapolis Bergolak Lagi, Petugas ICE Tembak Imigran Venezuela