Dalam wawancara dengan Fox News, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memberikan pernyataan yang cukup mengejutkan. Ia memastikan tidak akan ada eksekusi mati terhadap para pendemo, baik hari ini maupun besok. "Saya dapat memberi tahu Anda, saya yakin bahwa tidak ada rencana untuk hukuman gantung," tegas Araghchi, seperti dilaporkan AFP, Kamis lalu.
Pernyataan ini tentu saja menarik. Sebab, sebelumnya justru muncul sinyalemen yang sangat berbeda dari dalam negeri Iran sendiri.
Kepala otoritas kehakiman, Gholamhossein Mohseni-Ejei, lewat sebuah pernyataan video, mengisyaratkan persidangan cepat dan hukuman mati bagi para tahanan unjuk rasa. "Jika kita ingin melakukan suatu pekerjaan, kita harus melakukannya sekarang. Jika kita ingin melakukan sesuatu, kita harus melakukannya dengan cepat," ujarnya dengan nada mendesak.
Mohseni-Ejei menambahkan, penundaan akan menghilangkan efek yang diinginkan. "Jika terlambat, dua bulan, tiga bulan kemudian, itu tidak akan memiliki efek yang sama."
Nah, di tengah situasi yang tegang itu, Araghchi justru tampil dengan nada yang lebih kalem. Menurutnya, sepuluh hari demonstrasi damai sempat diwarnai tiga hari kekerasan yang ia klaim diatur oleh Israel. Tapi sekarang, semuanya sudah tenang. Pernyataannya ini sekaligus mengabaikan peringatan keras dari Presiden AS Donald Trump.
Gelombang protes yang mengguncang Iran sejak sebulan terakhir ini awalnya berakar pada kekecewaan atas ekonomi yang morat-marit. Namun, gerakannya kemudian berkembang, berubah menjadi tantangan yang lebih luas terhadap pemerintahan teokratis yang telah berkuasa puluhan tahun.
Kerusuhan dan kekerasan pun tak terhindarkan. Seorang pejabat Iran, yang enggan disebut namanya, mengungkapkan angka yang mencengangkan: sekitar 2.000 orang dikabarkan tewas dalam aksi unjuk rasa besar-besaran tersebut. Sebuah angka yang sulit dibayangkan, dan menggambarkan betapa panasnya situasi di lapangan.
Artikel Terkait
Polda Metro Jaya Sterilkan SUGBK Jelang Laga Ekshibisi Clash of Legends 2026
UNESCO Tetapkan Rabat, Maroko sebagai Ibu Kota Buku Dunia 2026
UNESCO Tetapkan Rabat sebagai Ibu Kota Buku Dunia 2026
Polisi Ungkap Korban Dibunuh Mantan Suami dengan Cekikan dan Bekapan di Serpong