Mousavi menyebut para milisan itu sebagai "tentara bayaran". Pengiriman mereka, katanya, dilakukan setelah apa yang ia gambarkan sebagai "perang 12 hari" melawan Iran berakhir tanpa hasil bagi Washington dan Tel Aviv. Jadi, ini dianggap sebagai cara lain untuk menciptakan kekacauan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah AS atau Israel. Situasi di Iran sendiri memang sedang panas. Gelombang protes anti-pemerintah sudah berlangsung sejak sebulan terakhir, dipicu oleh kondisi ekonomi yang kian terpuruk. Mata uang nasional, rial, terus melemah dengan drastis.
Kabarnya, nilai tukarnya anjlok sampai ke angka 145.000 rial per dolar AS. Dampaknya langsung terasa: harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi, rakyat semakin sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam situasi seperti ini, sejumlah pejabat Iran kerap menyebut ada tangan-tangan asing terutama AS dan Israel yang mendukung apa yang mereka sebut "perusuh bersenjata" di dalam negeri. Sebuah narasi yang terus diulang untuk menjelaskan gejolak yang terjadi.
Artikel Terkait
Grok AI dan Kemarahan Global: Ketika Teknologi Melampaui Batas Kemanusiaan
Polisi Turun Tangan, Beri Layanan Kesehatan ke Pengungsi Banjir Benda
Boyolali Siap Gelar Puncak Hari Desa 2026, Diramaikan 50 Ribu Peserta
1.500 Personel Polsi Dikerahkan untuk Kawal Demo Ojek Online di Jakarta