Mousavi menyebut para milisan itu sebagai "tentara bayaran". Pengiriman mereka, katanya, dilakukan setelah apa yang ia gambarkan sebagai "perang 12 hari" melawan Iran berakhir tanpa hasil bagi Washington dan Tel Aviv. Jadi, ini dianggap sebagai cara lain untuk menciptakan kekacauan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah AS atau Israel. Situasi di Iran sendiri memang sedang panas. Gelombang protes anti-pemerintah sudah berlangsung sejak sebulan terakhir, dipicu oleh kondisi ekonomi yang kian terpuruk. Mata uang nasional, rial, terus melemah dengan drastis.
Kabarnya, nilai tukarnya anjlok sampai ke angka 145.000 rial per dolar AS. Dampaknya langsung terasa: harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi, rakyat semakin sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam situasi seperti ini, sejumlah pejabat Iran kerap menyebut ada tangan-tangan asing terutama AS dan Israel yang mendukung apa yang mereka sebut "perusuh bersenjata" di dalam negeri. Sebuah narasi yang terus diulang untuk menjelaskan gejolak yang terjadi.
Artikel Terkait
Una Klaim Lindi Hamil, Keluarga Virgoun Bantah dan Tuding Cari Perhatian
Pemangkasan Pohon dan Pemasangan Lampu di Taman Cawang untuk Cegah Aktivitas Asusila
Taliban Tawarkan Jalur Diplomasi Meski Ketegangan di Perbatasan Pakistan Masih Membara
Arab Saudi Perketat Aturan Paket Umrah Ramadan, Jemaah Indonesia Diminta Waspada