Pernyataan ini sejalan dengan nada yang sudah lebih dulu dikeluarkan Teheran. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, sebelumnya menuduh AS dan Israel sengaja "menebar kekacauan dan ketidakstabilan" lewat kerusuhan ini.
Meski demikian, di tengah saling tuduh itu, Iran disebut tetap membuka jalur komunikasi dengan Washington. Situasinya memang rumit.
Di lapangan, kondisinya tetap mencekam. Data terbaru dari kelompok HAM HRANA, yang berbasis di AS, menyebutkan angka korban yang tak main-main: sedikitnya 572 orang dilaporkan tewas dalam penindasan unjuk rasa nasional beberapa hari terakhir ini.
Dengan angka sebesar itu, tekanan terhadap pemerintah Iran dan juga reaksi dari negara-negara seperti Rusia dan AS tampaknya belum akan mereda dalam waktu dekat.
Artikel Terkait
Jerman Anggap Wacana Akuisisi Greenland oleh AS Tak Serius
Prabowo Kirim Sinyal Kuat, Kunjungan Perdana ke IKN Diikuti Para Menteri
KPK Periksa Anggota DPRD Bekasi Terkait Ijon Proyek Rp 9,5 Miliar
Saksi Ungkap: Arahan Nadiem untuk Go Ahead Chromebook di Sidang Korupsi Laptop Sekolah