Naifah berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja serabutan, jadi tukang servis dan jual beli handphone. Bagi dia, kehadiran Sekolah Rakyat ibarat pintu harapan yang terbuka lebar.
"Senang banget alhamdulillah. Soalnya kalau enggak ada program ini saya kayaknya enggak sekolah," ujarnya polos.
Di sisi lain, antusiasme serupa terpancar dari para pendidik. Seperti Maria Cindayani Rosari Limun, guru dari Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang. Baginya, peluncuran resmi ini adalah momen bersejarah.
"Tentu banyak masyarakat yang akan tahu dan sadar bahwa Sekolah Rakyat ini benar-benar sangat bermanfaat dan sasarannya tepat pada orang yang betul-betul membutuhkan," kata Maria.
Harapannya sederhana namun mendalam: agar Sekolah Rakyat, khususnya di Kupang, bisa terus berkembang dan menjangkau lebih banyak anak.
"Karena sangat banyak anak di sana yang membutuhkan pendidikan, bantuan pendidikan, dan juga saya sangat berharap di NTT ini tidak hanya sampai di SMP, ada juga sampai di SMA," pungkasnya.
Program ini sebenarnya sudah berjalan. Sebanyak 166 titik Sekolah Rakyat rintisan telah beroperasi sejak tahun lalu, 2025. Sementara itu, pembangunan 104 titik permanen juga sedang digarap. Targetnya ambisius: mencapai 200 titik pada tahun 2027. Sebuah langkah konkret yang, bagi banyak siswa seperti Naifah, bukan sekadar angka, melainkan masa depan yang kini terlihat lebih cerah.
Artikel Terkait
Imigrasi Meulaboh Amankan Warga Malaysia Overstay 237 Hari
Wali Kota Palangka Raya Tegaskan Tidak Ada PHK untuk PPPK Meski Ada Efisiensi Anggaran
BNPP Gelar Pelatihan Tenun Ikat untuk Dongkrak Ekonomi Warga Perbatasan Belu
Nadiem Makarim Akui Kesalahan dan Mohon Maaf atas Gaya Kerja Saat Jadi Menteri