Tok... Tok... di Malam Cengkareng, Ritme Penjaga yang Tak Lekang Waktu

- Minggu, 11 Januari 2026 | 08:45 WIB
Tok... Tok... di Malam Cengkareng, Ritme Penjaga yang Tak Lekang Waktu

Menurut Wagino, tradisi ini sudah berlangsung puluhan tahun. Ia sendiri sudah tinggal di sana sejak 1993, dan bunyi khas malam itu selalu ada. Memang, ada sedikit perubahan cara. Sekarang, hansip kadang patroli naik sepeda, membunyikan bel 'kring-kring' sebagai pelengkap. Tapi inti dan maknanya tetap sama.

Di tingkat RT, sebenarnya tidak ada hansip khusus. Sistem keamanan dikelola oleh RW. Ada tiga orang hansip yang bergantian jaga, membagi area karena wilayahnya cukup luas.

Efektif? Tampaknya iya. Kasus kemalingan di sini sangat jarang, bisa dihitung jari. Wagino bercerita suatu kali hansip pernah memergoki sekelompok anak yang mencoba memanjat pagar rumah warga. Spontan, si jagal malam memukul tiang listrik lebih keras dan berulang. Beberapa warga terbangun, dan anak-anak itu pun bisa diamankan ke pos RW.

Wagino berharap tradisi sederhana ini tak lekang oleh zaman. Meski begitu, ia merasa perlu ada perhatian lebih untuk para penjaga malam itu.

"Minimal dibekali alat komunikasi seperti HT. Kalau ada kejadian mendesak, bisa langsung koordinasi," harapnya.

Jadi, di balik bunyi sederhana itu, tersimpan sebuah sistem keamanan tradisional yang ternyata masih relevan. Sebuah ritme malam yang bukan sekadar kebisingan, tapi janji akan rasa aman.


Halaman:

Komentar