Awalnya, unjuk rasa ini dipicu oleh persoalan ekonomi yang runyam inflasi melonjak dan nilai mata uang Iran terjun bebas. Tapi amarah rakyat dengan cepat berubah haluan, menjadi perlawanan politik yang lebih keras. Kini, teriakan menentang Khamenei terdengar di Teheran dan berbagai penjuru negeri.
Trump tampak terus mengamati perkembangan ini. Dalam keterangannya kepada wartawan di Gedung Putih, Sabtu (10/1), ia menggambarkan situasinya dengan nada dramatis.
"Menurut saya, rakyat sedang menguasai beberapa kota yang beberapa minggu lalu tidak pernah terpikirkan sebelumnya," ujarnya.
Ia juga mengulang peringatan kerasnya agar otoritas Iran tidak menembaki demonstran. Trump menegaskan AS mengawasi dengan cermat.
"Kami akan terlibat. Kami akan menyerang mereka dengan sangat keras di titik lemah mereka," cetus Trump tegas.
Meski begitu, ia buru-buru meluruskan. Ancaman itu, katanya, bukan berarti akan mengirim pasukan darat. Baginya, gelombang protes ini adalah sesuatu yang "sangat luar biasa", sebuah "hal yang menakjubkan untuk disaksikan".
Artikel Terkait
Paket All In Rp 23 Miliar yang Gagal, Pimpinan KPP Jakut Jadi Tersangka Suap Pajak
Iran Balas Ancaman Trump: AS dan Israel Jadi Sasaran Sah
Cemburu Buta Berujung Aib: Pacar Dianiaya dan Dipermalukan di Kendari
Iran Ancam AS dan Israel, Korban Kerusuhan Tembus 500 Jiwa