“Ini bukan pembangunan, melainkan pembangunan tanpa keadilan dan tanpa peradaban.”
Sebagai Presiden kelima RI, ia meyakini bencana di Sumatera bukanlah takdir semata. Ada campur tangan manusia yang memperparah segalanya. Kawasan hulu, yang mestinya jadi penyangga kehidupan dan penyerap air, telah berubah total. Eksploitasi besar-besaran menggantikan hutan alam dan wilayah adat dengan tanaman monokultur yang akarnya dangkal dan nilai ekologisnya rendah.
Akibatnya? Sangat jelas. Saat hujan datang, air tak lagi punya tempat meresap. Alih-alih menjadi sumber kehidupan, ia berubah menjadi kekuatan penghancur yang mengamuk ke hilir. Menyapu bersih pemukiman, lahan pertanian, dan menghancurkan hidup rakyat kecil yang suaranya tak pernah didengar dalam pengambilan keputusan.
Bagi Megawati, semua ini adalah cermin dari sebuah krisis yang lebih dalam: krisis peradaban ekologis. Manusia mulai lupa diri, merasa dirinya penguasa alam, bukan bagian darinya.
“Inilah krisis peradaban ekologis,” pungkasnya, “ketika manusia menempatkan dirinya sebagai penguasa alam, bukan sebagai bagian dari kesatuan kehidupan.”
Artikel Terkait
WNA Diduga Ekshibisionis di Blok M Kabur, Beralasan Cuaca Panas Bikin Gatal
Motor Trail Menembus Medan Ekstrem, Bantuan Sampai ke Pelosok Aceh Tengah
Gelombang Bom Guncang SPBU Thailand Selatan, Empat Orang Terluka
Kemenag Tegaskan Awal Ramadan 2026 Tunggu Sidang Isbat, Bukan Kalender