Warga Kramat Jati Berjuang Melawan Langganan Bau Sampah Pasar Induk

- Kamis, 08 Januari 2026 | 11:30 WIB
Warga Kramat Jati Berjuang Melawan Langganan Bau Sampah Pasar Induk

Bau menyengat itu sudah jadi langganan. Bertahun-tahun, warga di sekitar Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, harus berdamai dengan aroma tak sedap yang berasal dari gunungan sampah di pasar itu. Rasanya seperti masalah yang tak pernah benar-benar selesai.

Roni, salah seorang warga RT 03/RW 04 Kelurahan Tengah, mengeluh. Menurutnya, persoalan ini sudah berlangsung sangat lama.

"Wah sudah lama sekali. Tahunan, bukan bulan. Kalau sudah dibersihkan ya tidak bau. Tapi kalau numpuk lagi, ya bau lagi,"

Ia menjelaskan, bau busuk itu biasanya paling menyengat saat sampah sedang dibongkar atau ketika musim hujan tiba. Belakangan ini, tumpukannya malah kelihatan makin tinggi dan menggunung. Situasinya makin runyam ketika proses pengangkutan sampah mandek atau terhambat. Dampaknya jelas: kenyamanan warga terusik.

Bau itu, kata Roni, bisa merasuk sampai ke dalam rumah.

"Asli bau. Sampai ke dalam-dalam rumah. Kadang-kadang sampai bilang, 'duh, ini bau sampahnya sampai begini',"

Nah, sumber utamanya bukan sampah rumah tangga biasa yang volumenya relatif kecil. Bau busuk yang dominan justru berasal dari sampah sayuran yang sudah membusuk, sisa dari aktivitas perdagangan di pasar induk tersebut.

"Ini kan sampahnya luar biasa, sampah Pasar Induk. Apalagi sayuran kalau busuk ya tahu sendiri,"

Di sisi lain, harapan warga sebenarnya sederhana. Mereka ingin pengelolaan sampah di pasar itu ditangani dengan lebih serius dan konsisten. Roni berharap ada solusi yang tuntas dari pengelola pasar bersama instansi terkait, agar masalah ini tidak berulang setiap tahun.

"Harapan warga ya supaya bersih. Walaupun ada sampah, cepat diangkat, jadi dampaknya nggak ke warga. Kalau pun bau, jangan terlalu sampai masuk rumah,"

Intinya, warga lelah. Mereka hanya ingin menghirup udara segar di rumah sendiri, tanpa dihantui bau yang seharusnya bisa diatasi.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar