Di sisi lain, situasi di dalam negeri kian memanas. Laporan terbaru dari jejaring pegiat HAM, Human Rights Activists News Agency (HRANA), menyebut angka korban tewas akibat kekerasan terkait protes telah meningkat. Setidaknya 35 orang meninggal dunia pada Selasa (6/1) waktu setempat.
Angka itu mencakup 29 pengunjuk rasa, empat anak-anak, dan dua anggota pasukan keamanan. Lebih dari 1.200 orang lainnya ditahan. Gelombang ketidakpuasan ini ternyata sangat luas, menjangkau lebih dari 250 kota, desa, dan lokasi lain di 27 provinsi. Hampir seluruh negeri.
Data dari HRANA, yang didirikan oleh pelarian Iran dan dilansir media DW, dianggap cukup akurat. Jejaring aktivis mereka di dalam negeri dikenal punya rekam jejak yang bisa dipercaya dalam melaporkan kerusuhan sebelumnya.
Jadi, situasinya rumit. Peringatan militer ke luar negeri beriringan dengan usaha meredam gejolak dari dalam. Semuanya terjadi dalam waktu yang bersamaan, menciptakan tekanan dari dua front yang berbeda.
Artikel Terkait
Debt Collector Diduga Otak Penusukan Advokat Ditangkap di Semarang
Siswa SD dan Ayahnya Selamat Usai Terseret Banjir Lahar di Sungai Regoyo
Surabaya Gelar Gerakan GEMILANG, 2.776 TK Kunjungi SD untuk Permudah Transisi Murid
Tito Karnavian Tinjau Rehabilitasi Pascabencana dan Serukan Hunian Layak bagi Pengungsi Aceh