Di sisi lain, langkah Washington di Venezuela sepertinya menambah kekhawatiran. Intervensi militer AS di negara Amerika Latin itu yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro seolah menghidupkan kembali spekulasi tentang niat serupa di Arktik. Trump sendiri menyatakan AS akan "mengelola" Venezuela tanpa batas dan mengambil alih cadangan minyaknya yang melimpah.
Lalu, apakah ini pertanda untuk Greenland?
Ketika ditanya oleh The Atlantic mengenai kaitan antara operasi di Venezuela dengan ambisinya atas Greenland yang kaya mineral, Trump menjawab dengan samar. Itu terserah orang lain untuk menilai, katanya.
Reaksi internasional pun mengalir. Prancis, misalnya, lewat juru bicara Kementerian Luar Negeri mereka, Pascal Confavreux, menyatakan solidaritas penuh dengan Denmark. Dalam wawancara dengan TF1, Confavreux menegaskan sebuah prinsip dasar: "perbatasan tidak dapat diubah dengan paksa."
Jadi, situasinya jelas. Gagasan aneksasi yang kerap diulang-ulang Trump itu tidak diterima. Bukan oleh Greenland, bukan oleh sekutu AS di Eropa. Yang tersisa kini adalah pernyataan keras dari sebuah wilayah otonom yang ingin kedaulatannya dihormati.
Artikel Terkait
Rumah Sakit Utama di Beirut Bertahan di Tengah Ancaman Militer dan Krisis Pasokan Medis
Liverpool Hentikan Tren Buruk, Kalahkan Fulham 2-0 di Anfield
Jordan Ivy-Curry Pamit dari IBL, All-Star 2026 Jadi Penampilan Terakhir
Pameran Nasional Tatah 2026 Digelar di Jakarta untuk Hidupkan Kembali Seni Ukir Jepara