Brankas Kosong dan Percakapan Maut yang Akhiri Nyawa Bocah Politikus

- Senin, 05 Januari 2026 | 12:00 WIB
Brankas Kosong dan Percakapan Maut yang Akhiri Nyawa Bocah Politikus

Kasus pembunuhan anak seorang politikus PKS di Cilegon, Banten, akhirnya mulai terkuak. Motifnya? Pencurian. Pelaku berinisial HA (30) disebut-sebut frustasi setelah gagal membuka sebuah brankas di rumah korban. Dalam aksinya yang nekat, dia bahkan sempat berinteraksi dengan korban, seorang anak berusia 9 tahun bernama A.

Menurut penjelasan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Banten, Kombes Dian Setyawan, HA masuk ke area rumah dengan cara yang cukup berani. Dia melompati tiang pagar. Rupanya, sebelumnya dia sudah mencoba cara yang lebih “lunak”.

“Mencet bel empat kali, tak ada respons,” ujar Dian dalam jumpa pers, Senin (5/1/2026).

“Kemudian manjat tiang samping pos satpam. Setelah masuk, pelaku ke lorong kiri rumah utama, selanjutnya mencongkel jendela kamar pembantu. Baru setelah itu dia masuk ke TKP,” paparnya lebih lanjut.

Penampilan pelaku saat beraksi sangat tertutup. Dia menggunakan masker, helm full face, lengkap dengan sepatu dan sarung tangan. Begitu masuk, matanya langsung tertuju pada sebuah brankas besar di lantai satu. Sayangnya untuk si pelaku, pintu brankas itu terbuka tapi isinya bukan harta yang dia cari.

“Setelah mengotak-atik brankas dan tak berhasil bahkan kondisinya sudah geser ke kiri yang bersangkutan naik ke lantai 2,” terang Dian.

Dan di sanalah segalanya berubah jadi makin kelam. Lantai dua adalah kamar sang korban. Saat itu, A sedang asyik main HP di atas kasurnya.

Pelaku menghampiri. Dia memberi kode agar anak itu diam. Lalu, percakapan singkat dan mengerikan pun terjadi.

“Ayahmu di mana?” tanya pelaku.

“Keluar,” jawab korban.

“Tahu kunci brankas ditaruh di mana?”

“Tidak tahu, mungkin kakak yang tahu,” ujar sambil menunjuk kamar kakaknya di lantai yang sama.

Itu adalah percakapan terakhirnya. Korban kemudian dibawa ke balik lemari dan diikat. Tapi anak itu melawan. Perlawanan itu dibalas pelaku dengan cara yang brutal: tusukan.

“Korban teriak, semakin ditusuk,” jelas Dian dengan nada berat.

Usai aksi penusukan, pelaku buru-buru turun. Kembali ke brankas yang tadi dia obrak-abrik. Bekas darah korban ditemukan di atasnya, termasuk pada tombol kode brankas itu, menjadi saksi bisu kekejaman yang terjadi di lantai atas.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar