Pengerjaannya tak main-main. Purwanti Suryandari, Kepala Sudin SDA setempat, mengerahkan sekitar 50 petugas dari SDA dan PPSU Kecamatan Kembangan untuk membangun struktur tersebut. "Bronjongan kuat dan fleksibel menahan pergeseran tanah," katanya meyakinkan. Memang, metode ini dikenal efektif untuk menstabilkan tanah di tepian sungai.
Di sisi lain, upaya pengamanan juga dilakukan di lapangan. Camat Kembangan, Joko Suparno, menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan BPBD DKI untuk memasang garis pembatas. Garis itu memisahkan zona longsor dari rumah penduduk.
"Kami juga mengimbau warga, melalui RT dan RW, untuk tidak melintasi area yang rawan itu," tambah Joko.
Langkah antisipasi ke depan pun sudah dipikirkan. Mereka akan berkoordinasi lebih intens dengan BPBD untuk memantau ketinggian air Kali Angke dan curah hujan. Ini semacam sistem peringatan dini, agar jika ancaman serupa datang, responnya bisa lebih cepat.
Jadi, meski tanah sudah bergerak, upaya penanganan dan pencegahan berjalan beriringan. Warga setempat tentu berharap bronjong itu cukup kuat menahan laju alam, sambil menunggu solusi yang lebih permanen.
Artikel Terkait
Anak Kandung Diduga Curi Motor Ayahnya di Tanggamus
Gubernur Papua Barat Daya Serahkan Tiga Puskesmas Keliling Air untuk Jangkau Daerah Kepulauan
Arab Saudi Naikkan Hadiah Kompetisi Hafalan Al-Quran Jadi Rp40 Miliar
Polda Riau Gelar Lomba Lari Gratis untuk Alihkan Aktivitas Balap Liar