“Senjata mereka itu bukan senjata apa-apa, tapi alat pembersih. Kita ingin pemerintahan kabupaten bisa segera berjalan normal,” ucap Tito.
Mereka bakal bertugas sebulan penuh. Perlengkapan pun dibawa sendiri, dari sekop, cangkul, sampai logistik pribadi. Selain fokus di kantor pemerintahan, mereka juga akan menjangkau lebih dari 200 desa yang masih terpuruk pascabencana.
Di sisi lain, penugasan ini bukan sekadar bantuan biasa. Ini adalah bagian dari kurikulum KKN mereka. Sebuah Kuliah Kerja Nyata yang betul-betul nyata, kata Tito.
“Ini kuliah kerja nyata yang betul-betul nyata. Mereka berhadapan langsung dengan masalah riil di lapangan dan ini jadi pengalaman luar biasa bagi mereka,” imbuhnya. Pengalaman lapangan itu nantinya akan masuk dalam penilaian akademik.
Jadi, ini adalah bentuk gotong royong. Pemerintah pusat mengerahkan calon-calon pemimpin daerahnya untuk langsung menyentuh persoalan riil. Harapannya sederhana: pemulihan Aceh Tamiang bisa terpacu lebih cepat.
Artikel Terkait
Anggota TNI AL Diamankan Usai Diduga Aniaya Warga hingga Tewas di Depok
Setelah Penggerebekan, BNN Gulirkan Pelatihan Wirausaha untuk Warga Berlan
Tragis di Tanjung Priok: Ibu dan Dua Anak Tewas, Satu Selamat dalam Kondisi Kritis
Tabrakan Beruntun Libatkan Ekskavator, Jalan Jonggol-Cariu Lumpuh