Isu tentang calo tiket kembali mencuat, kali ini menyasar Planetarium Jakarta di kawasan Taman Ismail Marzuki. Pasca dibuka kembali, tiket pertunjukan Teater Bintang konon susah didapat. Beredar kabar, ada oknum yang memanfaatkan situasi ini dengan menjual tiket secara tidak resmi dengan harga melambung. Tentu saja, hal ini langsung menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Menanggapi viralnya dugaan praktik percaloan itu, PT Jakarta Propertindo (Jakpro) angkat bicara. Perusahaan yang mengelola TIM itu menegaskan hanya ada dua skema resmi untuk mendapatkan tiket. Mereka juga membantah keras bekerja sama dengan pihak ketiga mana pun.
“Sistem ticketing Teater Bintang Planetarium Jakarta telah dirancang secara terintegrasi, transparan, dan berbasis kuota,” jelas Anya A. Christiana, Head of SBU Taman Ismail Marzuki Jakpro, Kamis lalu.
Menurutnya, sistem ini dibangun untuk memastikan pengalaman menonton yang aman dan nyaman. “Sekaligus bebas dari praktik percaloan dan penipuan,” tambahnya.
Lalu, apa saja jalur resminya?
Pertama, pembelian secara online melalui platform Loket.com. Kedua, beli langsung di loket yang berada di Gedung Trisno Soemardjo, TIM. Pembagian kuotanya dibuat setara: 50 persen untuk jalur daring, dan 50 persen lagi untuk pembelian di tempat. Skema ini, kata Anya, diterapkan sesuai arahan Gubernur DKI agar akses bagi masyarakat lebih adil.
“Tidak ada penambahan kapasitas di luar tiket yang tersedia,” tegasnya. Mekanisme berbasis kuota per pertunjukan ini dirancang ketat. Tujuannya jelas: mencegah penambahan penonton liar yang bisa merusak kenyamanan.
Di sisi lain, Anya kembali menegaskan posisi perusahaan. “Jakpro tidak bekerja sama dengan pihak ketiga, perorangan, atau kanal tidak resmi dalam pendistribusian tiket,” ujarnya. Semua ini dilakukan untuk memotong kemungkinan keterlibatan oknum tidak bertanggung jawab.
Sebelum pernyataan resmi Jakpro keluar, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebenarnya sudah lebih dulu menyoroti isu ini. Awalnya, ia meyakini tidak ada calo.
“Nggak, nggak ada calonnya. Nggak mungkin ada calo,” kata Pramono di Karet Tengsin, Jakarta Pusat, beberapa hari sebelumnya.
Namun begitu, ia juga memberikan peringatan. “Kalau ada calon, saya minta tanggung jawab Dirut JakPro.”
Pramono mengaku sudah memberikan pesan khusus. “Saya udah pesan wanti-wanti nggak boleh ada calo,” ucapnya. Kekhawatiran masyarakat yang menuduh adanya calo membuat tiket langka dan harganya melonjak, rupanya sudah sampai di telinga pemimpin ibu kota.
Kini, semua perhatian tertuju pada implementasi di lapangan. Apakah dua skema resmi itu benar-benar bisa menutup celah bagi para calo? Waktu yang akan menjawabnya.
Artikel Terkait
Tanggul Sungai Cabean di Demak Jebol, Ratusan Rumah dan Lahan Pertanian Terendam
DPR Harap Prabowo Tegaskan Dukungan untuk Palestina di Forum Perdamaian AS
Tembok SMP di Kalibata Roboh, Diduga Akibat Kelalaian Perawatan
Anggota DPR Desak Pemerintah Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah