Bagi Setyawan, pemandangan itu bukan sekadar soal selera. Dari kendaraan yang dipakai, ia merasa bisa menilai integritas seorang hakim. Alasannya sederhana: gaji dan tunjangan, sebesar apa pun, rasanya tak cukup untuk membiayai gaya hidup yang berlebihan.
"Bagi kami, itu sudah bagian bisa melihat integritas di situ," tegasnya.
Ia kemudian menjelaskan lebih lanjut, "Jadi karena nggak mungkin ya, meskipun tunjangan hakim itu cukup besar, tapi tidak, tidak akan menjadikan hakim itu kaya."
Pernyataannya ini seperti menyentuh titik nyeri yang sudah lama ada. Di satu sisi, hakim adalah profesi terhormat dengan penghasilan yang telah diatur. Di sisi lain, kemewahan yang terpampang nyata di tempat kerja kerap menimbulkan tanda tanya besar. Ruang parkir, yang seharusnya hanya tempat singgah kendaraan, tiba-tiba menjadi cermin yang memantulkan lebih dari sekadar bayangan.
Artikel Terkait
Iran Beri Sinyal Positif untuk Kapal Pertamina Melintasi Selat Hormuz
Menteri PU Pantau Arus Balik, Jasa Marga Siapkan Rekayasa Lalu Lintas hingga Rest Area
Jalur Darurat Pengganti Jembatan Asam 3 di Kupang Akhirnya Dibuka
Arus Balik Lebaran 2026 Mulai Padat, Volume Kendaraan di Empat Gerbang Tol Naik 17%