Korea Utara Gebrak Meja, Tuding Jepang Lampaui Garis Merah dengan Ambisi Nuklir

- Senin, 22 Desember 2025 | 06:45 WIB
Korea Utara Gebrak Meja, Tuding Jepang Lampaui Garis Merah dengan Ambisi Nuklir

Korea Utara lagi-lagi melontarkan kecaman keras. Kali ini, sasarannya adalah Jepang, tetangganya yang dulu pernah menjajah Semenanjung Korea. Pemicunya? Sebuah pernyataan dari seorang pejabat Tokyo soal kemungkinan Jepang memiliki senjata nuklir. Bagi Pyongyang, ini bukan sekadar wacana, tapi ambisi berbahaya yang sudah "melampaui garis merah".

Semuanya berawal dari laporan Kyodo News akhir pekan lalu. Media itu mengutip seorang pejabat yang terlibat dalam perancangan kebijakan keamanan Jepang. Pejabat itu dengan blak-blakan bilang, "Saya pikir kita harus memiliki senjata nuklir."

Tak cuma itu. Sumber lain dalam laporan yang sama juga berkomentar, "Pada akhirnya, kita hanya bisa mengandalkan diri kita sendiri." Kalimat-kalimat itu langsung memantik reaksi berapi-api dari Korut.

Bagi rezim Kim Jong-un yang sudah lebih dulu punya senjata nuklir dan terbiasa menghadapi sanksi internasional, pernyataan dari Tokyo itu ibarat bensin yang disiram ke bara. Mereka melihatnya sebagai pengakuan terang-terangan atas ambisi nuklir Jepang.

Dan ambisi itu, menurut mereka, harus dihentikan. Bagaimanapun caranya.

"Upaya Jepang untuk memiliki senjata nuklir harus dicegah dengan segala cara karena akan membawa bencana besar bagi umat manusia,"

Demikian pernyataan tegas Direktur Institut Studi Jepang di bawah Kementerian Luar Negeri Korea Utara, yang dikutip oleh kantor berita resmi KCNA. Mereka tak lupa mengingatkan sejarah kelam penjajahan Jepang, seolah ingin menegaskan bahwa negara itu dianggap tidak pantas dan berbahaya jika memegang senjata pemusnah massal.

Jadi, situasinya jadi runyam. Di satu sisi, ada Jepang yang lewat suara pejabatnya terdengar mulai mempertimbangkan opsi nuklir untuk pertahanan sendiri. Di sisi lain, ada Korea Utara yang justru merasa berhak menuding dan memperingatkan dunia akan bahaya yang sama persis seperti yang mereka ciptakan. Ironis, bukan? Tapi begitulah dinamika panas di kawasan yang tak pernah benar-benar reda.

Komentar