Wabah Campak Mengintai di Barak Pengungsi Korban Banjir Aceh

- Sabtu, 20 Desember 2025 | 07:35 WIB
Wabah Campak Mengintai di Barak Pengungsi Korban Banjir Aceh

Bencana banjir dan tanah longsor di Aceh tak hanya merenggut tempat tinggal. Lebih dari 382 ribu orang terpaksa mengungsi, dan kini ancaman baru muncul dari dalam barak-barak pengungsian. Ribuan pengungsi mulai dilaporkan terjangkit berbagai penyakit, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, hingga yang paling mengkhawatirkan: campak.

Menurut keterangan Plt. Kadinkes Aceh, Ferdiyus, angka kasus ISPA sudah mendekati sepuluh ribu. Penyakit ini tersebar di sembilan kabupaten dan kota yang terdampak.

"Campak kita baru mendapatkan 9 kasus, dan ini yang kita khawatir kalau dia tinggal di barak, itu bisa menjadi penularan ke tempat lain," ujar Ferdiyus dalam konferensi pers, Jumat (19/12/2025).

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Kondempatan di pengungsian memang rentan memicu wabah. Selain ISPA, tercatat ada 1.376 kasus diare dan 1.336 kasus flu yang menjangkiti para pengungsi.

Merespon hal ini, Ferdiyus sudah menginstruksikan langkah tegas. Tenaga medis di posko kesehatan diminta untuk segera memindahkan pengungsi yang didiagnosa suspek campak. Mereka akan ditempatkan di lokasi yang lebih kecil dan terpisah. Tujuannya jelas: lokalisasi. Dengan mengelompokkan pasien, penanganan bisa lebih cepat dan penularan bisa dibatasi.

Upaya itu diklaim sudah berjalan. Tim medis dikerahkan untuk melakukan lokalisasi agar penyakit campak tidak menyebar luas. Di sisi lain, Dinas Kesehatan juga bersiaga dengan menyiapkan tenaga surveilans. Langkah ini penting untuk mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB).

Tak cuma mengantisipasi, bantuan terus dikirim. Obat-obatan dan tenaga medis tambahan didistribusikan ke daerah-daerah yang paling membutuhkan. Meski begitu, situasinya tetap rentan.

"Yang paling banyak di pengungsian itu tiga penyakit: ISPA, gatal-gatal, dan diare," tambah Ferdiyus menegaskan.

Jadi, meski KLB belum terjadi, kewaspadaan harus tetap maksimal. Ancaman kesehatan di tengah bencana seperti ini nyata adanya, dan bisa dengan mudah menjadi krisis kedua yang tak kalah pelik.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar