Namun begitu, kemunculannya tidak bisa diprediksi setiap saat. Semuanya tergantung pada sejumlah faktor yang harus berpadu.
"Fenomena awan lenticularis ini cukup sering terjadi, terutama di daerah pegunungan atau perbukitan dengan angin kencang dan kondisi udara stabil," jelas Prakirawan BMKG lainnya, Helena Adianova.
"Namun kemunculannya sangat bergantung pada faktor geografis dan cuaca spesifik seperti topografi wilayah dan kelembaban udara,"
sambungnya.
Intinya, bentuk awan yang menakjubkan itu adalah hasil dari angin yang mendorong udara lembab melintasi gunung. Prosesnya menciptakan gelombang di sisi lainnya, dan di puncak gelombang itulah awan lentikular terbentuk. Jadi, ini murni fenomena alamiah. Bukan pertanda bencana, melainkan sekadar pertunjukan singkat dari dinamika atmosfer kita.
Artikel Terkait
Libur Panjang Awal April 2026: Jumat Agung hingga Paskah Bentuk Long Weekend Tiga Hari
Kecelakaan Mudik Lebaran 2026 Turun, Korban Jiwa Anjlom 28%
Air Terjun Batu Ampar di Lingga Ramai Dikunjungi Saat Libur Lebaran
Timberwolves Tanpa Edwards Kalahkan Celtics, Nuggets Komplit Kembali