Namun begitu, kemunculannya tidak bisa diprediksi setiap saat. Semuanya tergantung pada sejumlah faktor yang harus berpadu.
"Fenomena awan lenticularis ini cukup sering terjadi, terutama di daerah pegunungan atau perbukitan dengan angin kencang dan kondisi udara stabil," jelas Prakirawan BMKG lainnya, Helena Adianova.
"Namun kemunculannya sangat bergantung pada faktor geografis dan cuaca spesifik seperti topografi wilayah dan kelembaban udara,"
sambungnya.
Intinya, bentuk awan yang menakjubkan itu adalah hasil dari angin yang mendorong udara lembab melintasi gunung. Prosesnya menciptakan gelombang di sisi lainnya, dan di puncak gelombang itulah awan lentikular terbentuk. Jadi, ini murni fenomena alamiah. Bukan pertanda bencana, melainkan sekadar pertunjukan singkat dari dinamika atmosfer kita.
Artikel Terkait
Delapan Ruas Utama Jakarta Siap Dialihkan Sambut PM Australia
Kemenimipas Siapkan 2.460 Titik Kerja Sosial Gantikan Jeruji Besi
BRI Pacu UMKM Naik Kelas Lewat Program Klaster Usaha
Trump Kritik Ekspresi Wartawati Saat Ditanya Soal Kasus Epstein