Burlian kemudian merinci apa saja yang sudah ditanam dan dikembangkan.
"Ada banyak, 10.000 bibit lele, 10 bedeng tanaman hortikultura seperti pokcoy, kacang tanah, jagung, cabai, sawi, timun, gamal, tomat, bawang merah. Juga paving block berbahan FABA, ada juga 500 pohon HTE telah dialokasikan sebagai bagian dari program pengembangan lingkungan berkelanjutan. Penggunaan FABA sebagai media tanam sekaligus menunjukkan inovasi pemanfaatan limbah agar memiliki nilai guna," jelasnya.
Program ini ternyata juga mengolah sampah. Konsep pertanian berkelanjutan dijalankan dengan mengelola sampah organik. Sampah makanan diubah jadi pupuk padat, sementara lindi olahan dari bahan bakar jumputan padat dijadikan pupuk cair. Keduanya berperan menyuburkan tanah kembali.
"Pemanfaatan kedua bahan organik ini memperkuat konsep ekonomi sirkular, di mana limbah menjadi sumber daya bernilai," tambah Burlian.
Ia menuturkan, upaya revitalisasi lahan pasca tambang oleh PLN Indonesia Power Suralaya ini menarik minat banyak pihak untuk datang belajar. Program yang disebut PETERPAN itu, akhirnya, tak cuma memulihkan lahan. Ia juga jadi semacam ruang belajar bersama bagi masyarakat dan pihak-pihak terkait.
Artikel Terkait
Ribuan Pemudik Berangkat Gratis dari Depok, Puncak Arus Diprediksi Besok
Tito Karnavian Desak Daerah Percepat Pendataan untuk Hunian Tetap Korban Bencana
BMKG Peringatkan Potensi Hujan di Banyumas, Pemudik Diminta Waspada
Taliban Klaim 400 Tewas dalam Serangan Udara Pakistan di Kabul, Islamabad Bantah