Tragedi Bondi Beach Picu Australia Perketat Aturan Senjata Api

- Selasa, 16 Desember 2025 | 12:10 WIB
Tragedi Bondi Beach Picu Australia Perketat Aturan Senjata Api

Hanya sehari setelah suasana mencekam melanda Pantai Bondi yang terkenal, pemerintah Australia bergerak cepat. Perdana Menteri Anthony Albanese, pada Senin (15/12), mengumumkan kesepakatan dengan para pemimpin negara bagian untuk memperketat aturan senjata api secara nasional. "Kami sepakat memperketat undang-undang senjata api di seluruh negeri," tegasnya. Rencananya, pemeriksaan latar belakang akan diperkeras. Warga non-Australia juga dilarang mendapat lisensi, sementara jenis senjata yang boleh dimiliki individu akan dibatasi lebih ketat lagi.

Langkah ini tak bisa dipisahkan dari tragedi mengerikan yang terjadi sehari sebelumnya. Saat itu, sekitar seribu orang tengah berkumpul merayakan malam pertama Hanukkah, festival cahaya umat Yahudi. Sukacita itu berubah jadi mimpi buruk dalam sekejap.

Perayaan Hanukkah Yahudi menjadi sasaran

Dua pria bersenjata, disebut-sebut sebagai ayah dan anak, tiba-tiba melepaskan tembakan ke arah kerumunan. Kekacauan pun tak terelakkan. Menurut keterangan pihak berwenang, tersangka yang lebih tua tewas di tempat. Putranya, yang berusia 24 tahun, kini terbaring kritis di rumah sakit.

Korban jiwa berjatuhan. Lima belas nyawa melayang, termasuk seorang penyintas Holocaust, seorang rabi setempat, dan seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun. Motif pastinya masih diselidiki, tapi Albanese sudah menyebutnya dengan gamblang: "tindakan kejahatan murni, tindakan antisemitisme, dan tindakan terorisme di tanah Australia."

Di sisi lain, polisi meminta publik untuk tetap tenang. Mereka mengingatkan agar masyarakat tidak terpancing setelah muncul laporan aksi vandalisme bernuansa Islamofobia pada Senin itu.

Warga sipil dipuji sebagai pahlawan

Di tengah kepanikan dan orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri, ada juga sosok-sosok yang justru maju. Mereka menenangkan dan menolong korban yang terluka. Salah satu kisah heroik datang dari Ahmed al Ahmed, seorang pemilik toko lokal berusia 43 tahun.

Dengan nyaris tanpa pikir panjang, ayah keluarga ini mendekati salah satu penyerang. Padahal, ia sama sekali tak punya pengalaman menggunakan senjata api. Ajaibnya, Ahmed berhasil merebut senjata dari tangan pelaku.

Dalam konferensi pers Minggu (14/12), Perdana Menteri Negara Bagian New South Wales, Chris Minns, memujinya habis-habisan.

"Ini pemandangan paling luar biasa yang pernah saya lihat," ujar Minns. "Seorang pria berjalan mendekati seorang penembak yang telah menembaki masyarakat dan sendirian melucuti senjatanya, mempertaruhkan nyawanya sendiri demi menyelamatkan nyawa banyak orang."

Keluarga Ahmed menyebut kondisinya stabil. Ia kini sedang menjalani pemulihan di rumah sakit setelah mengalami luka tembak saat berusaha melucuti senjata pelaku.

Para pemimpin dunia menyatakan solidaritas

"Serangan ini dirancang untuk menargetkan komunitas Yahudi Sydney pada hari pertama Hanukkah," kata Minns lagi. "Apa yang seharusnya menjadi malam damai dan penuh sukacita bagi komunitas tersebut, dirayakan bersama keluarga dan pendukung, kini hancur."

Gelombang dukungan dan kecaman pun mengalir dari berbagai penjuru dunia. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menulis di media sosial, "Eropa berdiri bersama Australia dan komunitas Yahudi di mana pun. Kita bersatu melawan kekerasan, antisemitisme, dan kebencian."

Tak hanya dia, Kanselir Jerman Friedrich Merz, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga menyuarakan hal serupa. Mereka mengecam keras serangan itu dan menyampaikan belasungkawa yang mendalam.

Josef Schuster, Presiden Dewan Pusat Yahudi di Jerman, memberikan pernyataan yang lebih tajam.

"Kita harus menyadari bahwa serangan terhadap perayaan Hanukkah ini tidak terjadi secara kebetulan. Ini adalah pola teror antisemit yang sengaja memilih hari raya untuk membunuh orang-orang yang tidak bersalah dan tak berdaya," ujarnya. "Sebagai komunitas Yahudi di Jerman, pikiran kami bersama saudara-saudari kami di Australia."

Bagaimana undang-undang senjata api Australia saat ini?

Sebenarnya, aturan senjata api Australia sudah lama dipandang sebagai standar emas di dunia internasional. Pijakannya adalah reformasi besar-besaran pasca tragedi Tasmania tahun 1996 yang menewaskan 35 orang.

Kala itu, pemerintah meluncurkan program pembelian kembali senjata, memberlakukan pemeriksaan latar belakang dan registrasi nasional, serta membatasi akses terhadap senjata otomatis dan semi-otomatis. Kerangka hukum itu relatif tak berubah sejak diterapkan puluhan tahun lalu. Hingga tragedi Bondi Beach memaksa semua pihak untuk melihat lagi celah-celah yang mungkin ada.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler