Albanese tak ragu menyebut serangan ini sebagai tindakan keji yang menargetkan komunitas tertentu di hari yang seharusnya penuh sukacita.
"Ini adalah serangan yang ditargetkan terhadap warga Yahudi Australia pada hari pertama Hanukkah, yang seharusnya menjadi hari sukacita, perayaan iman -- sebuah tindakan jahat, antisemitisme, terorisme yang telah menyerang jantung bangsa kita," tegasnya.
Dia juga punya pesan yang jelas tentang makna persatuan. "Serangan terhadap warga Yahudi Australia adalah serangan terhadap setiap warga Australia," tambah Albanese.
Di tengah kesedihan, ada secercah keberanian. Perdana Menteri memuji warga biasa yang berhasil menangkap dan melucuti senjata salah satu pelaku, menyebut mereka sebagai "pahlawan". Sebuah aksi spontan yang mungkin mencegah korban jiwa lebih banyak lagi.
Suasana di Sydney pagi ini tentu berbeda. Langit mungkin cerah, tetapi kesedihan terasa menggantung. Kibaran bendera yang tak sampai ke puncak tiang itu menjadi pengingat pilih bagi seluruh bangsa tentang betapa rapuhnya kedamaian.
Artikel Terkait
Rakornas 2026 di Sentul: Kunci Sinergi Pusat-Daerah Menuju Indonesia Emas
Kisah Penculikan Bocah Bekasi Berakhir di Atas Bus Bandung-Merak
DPR Apresiasi Langkah Cepat Danantara Bangun Huntara untuk Korban Bencana Sumbar
BPKB Digital Resmi Hadir, Cek Data Kendaraan Cukup dari Ponsel