Suara keras itu awalnya dikira berasal dari bengkel kayu. Sophia Holman, mahasiswi Universitas Brown, sedang mencari ruang kosong untuk belajar di gedung teknik kampusnya ketika suara itu pecah. Tapi kemudian, ia melihat seseorang berlari panik melewatinya dan naluri menyuruhnya untuk melakukan hal yang sama. Ia pun ikut berlari.
Menurut keterangannya, Holman berlari sejauh satu blok ke arah timur sebelum akhirnya menelepon polisi. Respon dari aparat kampus, katanya, datang dengan cepat. Namun begitu, suasana mencekam masih terasa. "Semua orang cukup tegang," ujarnya.
"Saat ini ada banyak kekacauan dan ketakutan. Tapi saya rasa ada juga kepercayaan bahwa polisi datang secepat mungkin, dan bahwa staf medis berusaha maksimal menolong yang terluka."
Peristiwa mengerikan ini terjadi pada Sabtu malam (13/12) waktu setempat. Dua orang dilaporkan tewas, sementara delapan lainnya mengalami luka-luka. Hingga berita ini diturunkan, pelaku penembakan masih buron.
Wali Kota Providence, Brett Smiley, mengonfirmasi hal tersebut. "Saat ini kami belum menahan pelaku penembakan," jelasnya.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump juga angkat bicara. Ia menyatakan telah mendapat pengarahan lengkap soal insiden "yang mengerikan" di Universitas Brown itu. Fokus utama saat ini, menurut Trump, adalah upaya pertolongan terhadap para korban.
Insiden ini tentu mengguncang komunitas kampus. Universitas Brown bukan sembarang tempat; ia termasuk dalam jajaran Ivy League, kelompok delapan universitas swasta di AS Timur yang dikenal sangat prestisius. Reputasinya yang bergengsi tak membuatnya kebal dari kekerasan yang memilukan ini.
Artikel Terkait
Wamendagri Dorong Revisi PP Majelis Rakyat Papua demi Perkuat Otsus dan Hak Orang Asli Papua
KAI Gandeng detikcom Latih 25 Pegawai Humas Tingkatkan Kompetensi Komunikasi Digital
Badut di Mojokerto Tersangka Pembunuhan Ibu Mertua, Cekcok Dipicu Penolakan Hubungan Intim
Prabowo Dorong BIMP-EAGA Lebih Adaptif Hadapi Tantangan Global di KTT Cebu