KH Shadiqul Amin: Kepatuhan pada Rais Aam NU adalah Wujud Adab, Bukan Sekadar Formalitas

- Minggu, 14 Desember 2025 | 09:50 WIB
KH Shadiqul Amin: Kepatuhan pada Rais Aam NU adalah Wujud Adab, Bukan Sekadar Formalitas

Bagi Nahdlatul Ulama, tradisi keilmuan, adab, dan kepemimpinan bukan sekadar hiasan. Itu adalah fondasi. Demikian ditegaskan Rais Syuriyah PWNU Lampung, KH Shadiqul Amin, yang menyebut ketiganya berakar kuat pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama'ah.

Di struktur organisasi NU, posisi Rais Aam memang unik. Dia bukan sekadar pimpinan tertinggi administratif. Lebih dari itu, dia memegang kewenangan moral dan keulamaan yang jadi penjaga arah perjuangan NU. Prinsip inilah yang selama ini jadi perekat, menjaga persatuan dan khittah organisasi di semua level.

"Kepatuhan kepada Rais Aam bukanlah sekadar kepatuhan administratif atau formalitas struktural," kata KH Shadiqul Amin dalam keterangan tertulisnya, Minggu (14/12/2025).

"Ketaatan tersebut merupakan wujud adab jam'iyah yang telah diwariskan oleh para masyayikh NU sejak awal berdirinya organisasi."

Jadi, hubungan antara Rais Aam dengan seluruh jajaran syuriyah di daerah itu dibangun dari hal-hal yang mendasar. Ada ta'dzim kepada ulama, rasa hormat pada sanad keilmuan, dan tentu saja, komitmen bersama untuk menjaga kemaslahatan umat. Menurutnya, Rais Aam adalah simbol pemersatu di tengah beragamnya pandangan dan dinamika internal.

Karena itu, setiap ada perbedaan pendapat, sikap yang diajarkan adalah kepala dingin. Selesaikan lewat musyawarah, dan yang paling penting, tetap berada dalam koridor kepemimpinan yang sah.

"Sikap ini menjadi kunci agar NU tetap kokoh sebagai jam'iyah diniyah ijtima'iyah yang berkhidmat untuk agama, bangsa, dan negara," ungkapnya.

Memang, kepatuhan ini adalah tanggung jawab moral seluruh pengurus. Namun begitu, itu bukan berarti menutup ruang untuk kritik atau dialog. Hanya saja, semuanya harus dilandasi niat baik: menjaga persatuan, bukannya malah mempertajam perpecahan.

Dinamika organisasi itu wajar, itu keniscayaan. Tapi bagi KH Shadiqul Amin, ada hal yang tak boleh dikalahkan: persatuan dan marwah jam'iyah harus selalu di atas kepentingan pribadi atau kelompok.

Di sisi lain, situasi saat ini mendorong dia untuk mengajak semua warga NU, khususnya di Lampung, kembali pada nilai-nilai dasar. "Yakni tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i'tidal (tegak lurus)," ajaknya.

Nilai-nilai luhur itu, katanya, hanya bisa hidup kalau diiringi sikap patuh pada pimpinan tertinggi. Juga kesediaan untuk menahan diri dari sikap-sikap yang berpotensi menggerogoti ukhuwah nahdliyah.

Pada akhirnya, menjaga kepatuhan kepada Rais Aam sama artinya dengan menjaga kesinambungan perjuangan para pendiri NU. Dengan berpegang teguh pada prinsip ini, NU diyakini akan tetap menjadi rumah besar yang teduh. Tempat bernaung bagi semua warganya, sekaligus pilar aktif dalam merawat persatuan umat dan keutuhan Indonesia.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar