MURIANETWORK.COM - Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengkritik keras Presiden Israel Isaac Herzog karena dianggap enggan memberikan grasi kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Tekanan terbuka ini disampaikan Trump kepada awak media di Washington D.C., Kamis (12/2) waktu setempat, sehari setelah ia bertemu dengan Netanyahu di Gedung Putih.
Kritik Trump terhadap Presiden Herzog
Dalam pernyataannya, Trump secara gamblang menyebut Herzog seharusnya merasa malu atas penolakannya untuk mengampuni Netanyahu. Ia memuji Netanyahu sebagai pemimpin masa perang yang dianggapnya luar biasa, sekaligus mendesak publik Israel untuk mendorong presiden mereka bertindak.
"Anda memiliki seorang presiden yang menolak untuk memberikan pengampunan kepadanya. Saya pikir orang itu seharusnya malu pada dirinya sendiri," ucap Trump tentang Herzog.
Ia kemudian menambahkan tekanan dengan nada yang lebih tegas. "Dia memalukan karena tidak memberikannya. Dia harus memberikannya," cetusnya.
Latar Belakang Kasus dan Pertemuan Penting
Komentar Trump ini bukan kali pertama AS menyuarakan permintaan grasi untuk Netanyahu, meskipun peran Presiden Israel lebih bersifat seremonial. Pertemuan di Gedung Putih sehari sebelumnya menandai pertemuan ketujuh antara kedua pemimpin itu sejak Trump kembali berkuasa.
Netanyahu sendiri telah lama berhadapan dengan proses hukum yang rumit. Ia dituduh menerima hadiah mewah yang dikategorikan sebagai suap dan diduga terlibat dalam pertukaran kebijakan dengan media untuk mendapatkan pemberitaan yang menguntungkan. Sidang pertamanya dibuka pada 2020, namun jalannya persidangan kerap terhambat oleh dinamika politik dan konflik di kawasan, termasuk perang di Gaza.
Dinamika Politik yang Berkelindan
Intervensi Trump ini menyoroti kompleksitas hubungan politik dalam negeri Israel yang beririsan dengan dinamika internasional. Desakan dari figur berpengaruh seperti mantan presiden AS menambah dimensi baru pada kasus hukum yang sudah penuh gejolak. Situasi ini memperlihatkan bagaimana tekanan eksternal dapat mencoba memengaruhi proses yang sejatinya bersifat domestik, di tengah iklim politik Israel yang terus memanas.
Artikel Terkait
Dua Tewas dalam Penembakan di Kampus South Carolina State University
Rupiah Melemah Tipis ke Rp16.836, Ikuti Tren Lesu Mata Uang Asia
Polri Ambil Alih Kasus Narkoba Mantan Kapolres Bima Kota
Fraksi Golkar Tetapkan Aturan Larang Serang Kebijakan Prabowo-Gibran