Lumpur masih menggumpal di Pasir Kuning. Sudah tiga hari berlalu sejak bukit itu runtuh, dan puluhan orang masih hilang, terkubur di bawahnya. Salah satunya adalah Tasya, gadis 17 tahun. Ayahnya, Asep Heri, tak mau berpangku tangan. Dia ada di sana, di tepi tebing yang ambrol, ikut menggali.
Bandana di kepalanya basah oleh keringat, jas hujan penuh corengan tanah. Asep duduk selonjoran di atas rumput, menyeruput kopi hitam yang dibawakan istrinya. Tangannya memegang rokok, matanya tak lepas dari gundukan tanah dan batu di depannya. Dia lelah, tapi tak akan berhenti.
Rumahnya di Ranca Upas, Ciwidey, sudah dia tinggalkan. Sekarang, hidupnya cuma satu taruhan: menemukan anaknya. Tasya sedang menginap di rumah saudara Asep saat longsor menerjang Sabtu lalu. Deni dan Ani, pemilik rumah itu, juga hilang bersama anak mereka.
"Ya saya langsung mencari sendiri," ujar Asep, suaranya parau namun tegas saat diajak bicara Senin kemarin.
Artikel Terkait
Pasca Bencana, Warga Aceh dan Sumut Serukan: Kami Butuh Kitab Suci Pengganti
Pulih Total, Layanan Kesehatan di Tiga Provinsi Sumatra Kembali Berjalan Normal
Thomas Djiwandono Uji Kelayakan, Usung Sinergi Fiskal-Moneter di Depan Komisi XI
Ketua Banggar DPR: Tommy Djiwandono Layak Jadi Deputi BI, Tak Perlu Dikhawatirkan