Di Balik Runtuhnya Bukit Pasir Kuning, Seorang Ayah Tak Henti Menggali untuk Putrinya

- Senin, 26 Januari 2026 | 15:35 WIB
Di Balik Runtuhnya Bukit Pasir Kuning, Seorang Ayah Tak Henti Menggali untuk Putrinya

Lumpur masih menggumpal di Pasir Kuning. Sudah tiga hari berlalu sejak bukit itu runtuh, dan puluhan orang masih hilang, terkubur di bawahnya. Salah satunya adalah Tasya, gadis 17 tahun. Ayahnya, Asep Heri, tak mau berpangku tangan. Dia ada di sana, di tepi tebing yang ambrol, ikut menggali.

Bandana di kepalanya basah oleh keringat, jas hujan penuh corengan tanah. Asep duduk selonjoran di atas rumput, menyeruput kopi hitam yang dibawakan istrinya. Tangannya memegang rokok, matanya tak lepas dari gundukan tanah dan batu di depannya. Dia lelah, tapi tak akan berhenti.

Rumahnya di Ranca Upas, Ciwidey, sudah dia tinggalkan. Sekarang, hidupnya cuma satu taruhan: menemukan anaknya. Tasya sedang menginap di rumah saudara Asep saat longsor menerjang Sabtu lalu. Deni dan Ani, pemilik rumah itu, juga hilang bersama anak mereka.

"Ya saya langsung mencari sendiri," ujar Asep, suaranya parau namun tegas saat diajak bicara Senin kemarin.

Dia ingin cepat. Cepat menemukan. Hanya bermodal cangkul dan kedua tangannya, dia mengais lumpur di titik yang diyakininya bekas rumah saudaranya. Perjuangan itu tak sia-sia. Di hari Minggu, dia berhasil menemukan jasad Deni dan Ani beserta keponakannya.

"Alhamdulillah, saudara sama keponakan saya sudah ketemu," katanya. Bahagia? Tentu. Tapi sedihnya lebih dalam, karena Tasya masih belum ditemukan.

Namun begitu, ada satu pemandangan yang membuatnya tercekat, sekaligus hancur. Jasad Ani ditemukan dalam posisi tertelungkup, seolah sedang bersujud, melindungi anaknya yang ditemukan di bawahnya. Kondisi anak itu relatif masih bersih. Rambutnya rapi, bahkan HP-nya masih menyala. Deni tergeletak tak jauh, sekitar satu meter dari mereka.

Pemandangan itu menggambarkan betapa dahsyatnya musibah, tapi juga betapa besarnya kasih sayang seorang ibu di detik-detik terakhir. Sementara untuk Asep, pencariannya masih berlanjut. Masih ada satu nama yang harus dia bawa pulang: Tasya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar