Memang, sekolah ini lahir dari gerakan kerakyatan. Namun begitu, konsep pendidikannya terbilang komprehensif. Sistem asrama yang terintegrasi menjadi tulang punggungnya. Di sini, anak-anak tak hanya mengejar pelajaran akademik biasa. Mereka juga dilatih keterampilan hidup, digiatkan dalam literasi, diajak belajar secara kreatif, dan tentu saja, pembinaan karakter mendapat porsi yang besar.
Mayoritas tenaga pengajarnya adalah relawan pendidikan dan para pemerhati sosial. Nuansa belajarnya pun jadi lebih inklusif dan penuh semangat. Pemerintah daerah berharap model seperti ini bisa terus berkembang, menjangkau lebih banyak anak di pelosok yang membutuhkan.
Bagi warga sekitar, kehadiran sekolah ini lebih dari sekadar bangunan. Ia adalah simbol nyata bahwa pendidikan berkualitas itu tidak harus mahal. Bahwa ia bisa diakses oleh siapa saja.
Artikel Terkait
Dosen Laporkan Penumpang KRL ke Polisi atas Tuduhan Pencemaran Nama Baik
Arus Mudik di Tol Cipali Mulai Ramai, Puncak Diprediksi 18-20 Maret
Panglima TNI Hidupkan Kembali Jabatan Kepala Staf Teritorial
One Way Nasional Diberlakukan Besok untuk Antisipasi Puncak Arus Mudik