"Di tengah dinamika pasar, AFPI tetap teguh menjalankan mandat sebagai asosiasi resmi," kata Entjik lagi. Rakernas ini, bagi dia, adalah wujud tekad bersama untuk memperkokoh tata kelola industri menghadapi tantangan dan peluang di tahun-tahun mendatang.
Tiga Poros Strategi Menghadapi 2026
Nah, tahun 2026 sendiri diprediksi akan membawa angin pemulihan. Inflasi yang rendah dan kondisi keuangan yang membaik diharapkan bisa memacu konsumsi dan investasi. Di sinilah industri Pindar dituntut berperan, mengisi ruang pembiayaan sektor digital dan mendongkrak inklusi keuangan.
Untuk menjawab itu, AFPI lewat Rakernasnya menetapkan tiga arah strategis. Pertama, penguatan tata kelola dan manajemen risiko. Caranya dengan mengoptimalkan Fintech Data Center (FDC), memperbaiki kualitas pelaporan SLIK, serta tentu saja, memperkuat keamanan siber dan perlindungan data pribadi.
Kedua, mendorong percepatan pembiayaan produktif dan UMKM. Targetnya, porsi pendanaan produktif bisa mencapai 40-50 persen, sesuai arahan roadmap OJK. Ini akan dilakukan lewat sinergi klaster produktif dan mitigasi risiko yang lebih ketat.
Yang ketiga, memperkuat perlindungan konsumen dan reputasi industri. Langkah konkretnya antara lain dengan sistem pengaduan terpadu, penerapan prinsip Responsible Lending, dan mengubah narasi Pindar menjadi mitra pertumbuhan UMKM nasional.
Di akhir, Entjik juga menyampaikan apresiasi kepada OJK. Menurutnya, OJK telah berperan penting menavigasi industri ini agar tetap tumbuh, baik dari sisi penyaluran pembiayaan maupun pengawasan terhadap disiplin tata kelola dan kepatuhan para platform.
Artikel Terkait
Menhub Tinjau Arus Mudik di Pantura Cirebon, Soroti Bahaya Mencari Koin di Pinggir Jalan
18 Jamaah Umrah Indonesia Terkatung Usai Kebakaran Hotel di Makkah
Jusuf Kalla Desak Polisi Usut Tuntas Penyerangan Aktivis KontraS dengan Air Keras
Gelombang Mudik Lebaran 2026 Mulai Masuk Jawa Tengah via Tol Pemalang