“Mengembalikan keseimbangan dimulai dari hal paling sederhana: menjaga kebersihan,” ujar Sachrudin.
Di sisi lain, ia menekankan pentingnya kolaborasi tanpa sekat. “Tidak boleh ada ego sektoral. Bencana adalah urusan kita semua. Pemerintah, aparat, dunia usaha, dan relawan harus bergerak dalam satu komando,” tambahnya.
Ia pun mengajak semua pihak untuk tetap kompak dan sehat. Instruksi spesifik pun diberikan: camat dan lurah harus memastikan kesiapan wilayahnya. Mulai dari pemeliharaan drainase, pemetaan titik rawan, hingga kesiapan relawan semua harus dipantau ketat.
Namun begitu, Sachrudin juga menyelipkan pesan yang lebih personal. “Logika dan perhitungan punya batas. Tetapi ikhtiar dan doa harus berjalan beriringan. Kalau kita bersatu, insyaallah Tangerang tetap aman sentosa,” imbuhnya.
Usai apel, suasana pun berganti. Sachrudin melakukan inspeksi mendadak terhadap armada dan perlengkapan darurat. Kemudian, ia menyaksikan langsung simulasi penanganan bencana. Adegan penyelamatan korban yang terombang-ambing di air dilakukan oleh tim penyelamat, memberikan gambaran nyata tentang situasi yang mungkin mereka hadapi nanti.
Semua itu, pada akhirnya, adalah bagian dari persiapan. Menghadapi musim penghujan yang diprediksi bakal keras, langkah-langkah nyata seperti inilah yang diharapkan bisa mengurangi dampaknya.
Artikel Terkait
CFD Besok Sediakan Pendaftaran Kartu Gratis Transjakarta untuk Lansia dan Disabilitas
Genangan Air Masih Selimuti Lima RT di Jakarta Utara
Ricuh Singkat di Luar Indomilk Arena Usai Derbi Persita vs Persija
Tetangga di Cilacap Bunuh dan Perkosa Bocah 4,5 Tahun yang Hanya Ingin Main