Namun begitu, inovasi Pemprov DKI tak cuma soal diskon. Pramono juga bercerita tentang masa sulit ketika dana bagi hasil Jakarta dipangkas drastis, nyaris Rp 15 triliun hilang. Situasi itu memaksa mereka berpikir kreatif.
"Apa yang kita lakukan? Melakukan yang disebut dengan creative financing," tuturnya.
Intinya, kata dia, adalah menjaga kualitas pembangunan tanpa membebani anggaran. Caranya? Membuka ruang seluas-luasnya untuk kolaborasi dengan swasta. Satu contoh nyata ada di halte-halte bus koridor Sudirman-Thamrin.
"Kenapa ada namanya? Bayar. Termasuk semuanya kita lakukan di mana saja," ungkap Pramono tentang kerja sama naming right tersebut.
Jadi, dari diskon besar-besaran hingga pembiayaan kreatif, pemprov berusaha mencari celah di tengah keterbatasan. Semua demi Jakarta, katanya, yang tetap harus bergerak maju.
Artikel Terkait
Cak Imin dan Pengurus PKB Bertamu ke Istana di Tengah Hujan Lebat
Pramono Anung Beri Sinyal Tegas ke Pengembang yang Mangkir dari Kewajiban Fasos-Fasum
Pramono Anung: Rusun Baru DKI Dilarang Pakai Atap Seng
Pramono Anung Larang Penggunaan Atap Seng untuk Rusun Baru DKI