Sudah berhari-hari berlalu, tapi kehidupan warga Aceh Tamiang yang diterjang banjir bandang masih jauh dari kata normal. Persoalan paling mendasar dan mendesak saat ini adalah air bersih. Jangankan untuk mandi, sekadar buang air kecil pun mereka masih kesulitan.
“Kami masih sangat kesulitan mendapatkan air bersih, jangan kan untuk mandi, untuk cuci air kecil saja kesulitan,”
Begitu keluh Awal Sulistio, seorang warga Desa Menanggini di Kecamatan Karang Baru. Suaranya terdengar lelah saat dihubungi Selasa lalu. Memang, bantuan air bersih sudah mulai masuk ke beberapa titik. Namun faktanya, bagi sebagian besar korban, mandi masih jadi kemewahan yang tak terjangkau.
Keadaan mereka sungguh memprihatinkan. Coba bayangkan, pakaian yang melekat di badan saat banjir melanda adalah satu-satunya yang mereka miliki sekarang. Rumah-rumah hancur, harta benda lenyap terseret arus. Yang tersisa hanya rasa trauma dan ketidakpastian.
Di sisi lain, kebutuhan spesifik untuk kelompok rentan juga mendesak. Para pengungsi sangat membutuhkan pakaian bekas layak pakai untuk bayi dan anak-anak. Belum lagi perlengkapan lain seperti popok, susu, atau peralatan makan khusus balita. Ini bukan sekadar soal kenyamanan, tapi kesehatan.
Artikel Terkait
Chelsea Hadapi Newcastle di Stamford Bridge, Perburuan Poin Penting di Liga Inggris
KPK Beberkan Modus THR Bupati Cilacap yang Picu Ijon Proyek
Program Makan Bergizi Gratis Buka Peluang Kerja dan Wujudkan Impian Penyandang Disabilitas di Sukoharjo
KPK Bongkar Goodie Bag THR Rp 20-100 Juta dari Bupati Cilacap, Target Setoran Rp 750 Juta