Sudah berhari-hari berlalu, tapi kehidupan warga Aceh Tamiang yang diterjang banjir bandang masih jauh dari kata normal. Persoalan paling mendasar dan mendesak saat ini adalah air bersih. Jangankan untuk mandi, sekadar buang air kecil pun mereka masih kesulitan.
“Kami masih sangat kesulitan mendapatkan air bersih, jangan kan untuk mandi, untuk cuci air kecil saja kesulitan,”
Begitu keluh Awal Sulistio, seorang warga Desa Menanggini di Kecamatan Karang Baru. Suaranya terdengar lelah saat dihubungi Selasa lalu. Memang, bantuan air bersih sudah mulai masuk ke beberapa titik. Namun faktanya, bagi sebagian besar korban, mandi masih jadi kemewahan yang tak terjangkau.
Keadaan mereka sungguh memprihatinkan. Coba bayangkan, pakaian yang melekat di badan saat banjir melanda adalah satu-satunya yang mereka miliki sekarang. Rumah-rumah hancur, harta benda lenyap terseret arus. Yang tersisa hanya rasa trauma dan ketidakpastian.
Di sisi lain, kebutuhan spesifik untuk kelompok rentan juga mendesak. Para pengungsi sangat membutuhkan pakaian bekas layak pakai untuk bayi dan anak-anak. Belum lagi perlengkapan lain seperti popok, susu, atau peralatan makan khusus balita. Ini bukan sekadar soal kenyamanan, tapi kesehatan.
Artikel Terkait
Polda Metro Jaya Gelar Operasi Pekat Jaya 2026, Amankan Ibu Kota Jelang Ramadhan
Jakarta Siagakan Ribuan Personel Amankan Aksi Buruh
250 Personel Gabungan Polri Diterjunkan Bangun 26 Jembatan di Riau
Cawang Mencekik Lagi, Proyek PDAM dan Volume Kendaraan Jadi Biang Kerok