Alih-alih mengejar target ujian, sekolah tersebut justru fokus pada pembelajaran yang bermakna pascabencana. Mereka mengedepankan aspek afeksi atau rasa. Peserta didik diajak untuk memahami kondisi teman-teman yang terdampak, mendiskusikan dampaknya, dan mencari tahu apa yang bisa mereka lakukan untuk membantu.
“Sekolah harusnya bisa jadi pusat pemulihan komunitas, bukan cuma tempat ujian,” ujar anggota Komisi X DPR RI itu. Ia punya usulan konkret: program “Sekolah Peduli”.
Program itu bisa diwujudkan dengan melibatkan guru dan siswa dalam kunjungan ke rumah-rumah korban, menggelar aksi sosial, atau bergotong royong membantu pemulihan fisik dan mental. Dari kegiatan semacam itulah, harap Lestari, akan tumbuh empati, solidaritas, dan nilai persatuan yang kuat hal-hal yang justru membentuk karakter peserta didik secara lebih mendalam.
Artikel Terkait
Satgas Rebut Kembali 1.700 Hektare Lahan Tambang Ilegal di Hutan
Korban Tewas Terjebak Macet dan Banjir, Gubernur DKI Perintahkan Penyelidikan
Operasi SAR Tuntaskan Pencarian Korban Terakhir Pesawat ATR di Gunung Bulusaraung
Songket dan Keris untuk Dua Jenderal: Silaturahmi Hangat UAS dengan Polda Riau