Insiden di atas langit ini bukanlah hal yang berdiri sendiri. Ia seperti bensin yang ditumpahkan di atas bara perselisihan diplomatik yang sudah menyala. Pemicu utamanya adalah komentar Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi soal Taiwan bulan lalu. Takaichi mengisyaratkan kemungkinan intervensi militer Tokyo jika China menyerang Taipei.
Bagi Beijing, pernyataan itu jelas melampaui batas. China punya pandangan yang sangat tegas: Taiwan adalah bagian dari wilayah kedaulatannya. Pemerintah di Taipei, meski demokratis dan mandiri, dianggap sebagai bagian yang suatu hari bisa “dipersatukan kembali”, dengan cara damai atau pun tidak.
Jadi, saling klaim di sekitar Okinawa ini lebih dari sekadar soal radar. Ini adalah lanjutan dari perang dingin kata-kata yang semakin panas, di mana setiap gerakan militer sarat dengan pesan politik. Kedua raksasa Asia itu seperti sedang menguji batas dan kesabaran satu sama lain, dengan langit dan laut sebagai panggungnya.
Artikel Terkait
Menu Bergizi Berujung Petaka, 132 Siswa di Manggarai Barat Keracunan Massal
Dinamika Keraton Solo: PN Solo Kabulkan Ganti Nama, Mangkubumi Fokus Revitalisasi
Trump Pertimbangkan Serangan Terarah untuk Dukung Demonstran Iran
Krisis Air Ancam RSUP M. Djamil, Pemerintah Gerak Cepat Bor Sumur Cadangan