Sarmuji Bantah Usulan Koalisi Permanen Bahlil Sindir Cak Imin

- Senin, 08 Desember 2025 | 08:30 WIB
Sarmuji Bantah Usulan Koalisi Permanen Bahlil Sindir Cak Imin

Sekjen Golkar, Muhammad Sarmuji, dengan tegas membantah tudingan yang beredar. Ia menyatakan wacana koalisi permanen yang dilontarkan Ketum Bahlil Lahadalia sama sekali bukan bentuk serangan balik terhadap Muhaimin Iskandar atau Cak Imin dari PKB. Menurut Sarmuji, gagasan itu murni dilontarkan Bahlil tanpa bermaksud merespons siapa-siapa.

"Ketum Bahlil menawarkan koalisi permanen karena hal itu memang penting, bukan untuk merespon siapa pun,"

kata Sarmuji, Senin (8/12/2025) lalu.

Wacana ini sendiri pertama kali mengemuka di hadapan Prabowo Subianto pada perayaan HUT Golkar, Jumat (5/12). Banyak yang langsung menganalisis. Mereka menduga usulan Bahlil itu adalah sindiran halus untuk Cak Imin, yang dulu berseberangan di Pilpres 2024 namun kini telah bergabung dengan pemerintahan.

Namun begitu, Sarmuji punya penjelasan lain. Baginya, koalisi permanen adalah sebuah langkah strategis. Tujuannya jelas: menjaga stabilitas pemerintahan dari awal hingga akhir masa jabatan.

"Koalisi permanen penting supaya stabilitas pemerintahan terjaga. Bukan kalau ada peluang lain, lalu tengok ke sana. Kami justru berharap partai lain dalam koalisi punya semangat yang sama,"

jelasnya lebih lanjut. Ia mendorong semua pihak untuk bersikap kompak.

Lain Cerita dari Analis Politik

Di sisi lain, tafsir yang berbeda datang dari Adi Prayitno, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI). Ia punya pandangan yang cukup tajam. Menurut analisisnya, usulan Bahlil itu tak lain adalah serangan balik untuk Cak Imin.

Latar belakangnya adalah pernyataan Ketum PKB itu yang mengajak tiga menteri untuk melakukan 'taubat nasuha' pasca bencana di Sumatera. Bagi Adi, ajakan Cak Imin terdengar seperti provokasi.

"Tapi karena ini kan yang ngomong adalah Muhaimin Iskandar, kan ngajak perang sebenarnya,"

kata Adi Prayitno dalam sebuah diskusi di Jakarta Pusat, Sabtu (6/12).

Ia melanjutkan, yang disebut Cak Imin adalah sejumlah elite partai yang dianggap publik punya kontribusi terhadap kerusakan alam di Sumatera. Nah, respons Bahlil yang menyebut Cak Imin juga perlu bertaubat, dalam pandangan Adi, adalah bentuk balasan yang cerdas. Jadi, meski Sarmuji membantah, di luar sana narasi pertarungan politik halus ini masih terus bergulir.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar