"Suami saya sudah lama meninggal dunia," katanya.
Kini, sebagai kepala keluarga, ia tak punya pekerjaan tetap. Penghasilannya cuma mengandalkan tenaga menanam padi milik orang lain, dengan upah yang sangat pas-pasan.
"Penghasilan saya cuma Rp 20 ribu sehari, itu juga kalau lagi musim tanam padi," ujar Kanapiah. "Kalau enggak ya hanya bisa pasrah."
Hidupnya memang sulit. Bahkan, untuk sekadar makan pun pernah ia dan anak-anaknya kesulitan. "Kami sekeluarga pernah enggak makan juga, karena enggak ada uang buat beli beras," kenangnya.
Ia sempat berharap pada bantuan pemerintah. Tapi harapan itu seolah menguap. "Dulu pernah difoto-foto dari desa, tapi sampai sekarang tidak ada bantuan," tuturnya lirih.
Kini, setidaknya, ada secercah harapan dari tangan-tangan tetangga yang peduli. Mereka bergotong royong, menyambung nyali untuk satu keluarga yang hampir putus asa.
Artikel Terkait
Empat Anak Diamankan Usai Lempar Batu Hancurkan Kaca Kereta Jayakarta Premium
Warga dengan Gangguan Jiwa Terseret Arus Irigasi di Tengah Pembagian Sembako
22 Unit Damkar Dikerahkan Atasi Kobaran Api di Rumah Tebet
Prabowo Gelar Rapat Dadakan di Bogor Usai Tur Dunia