"Hasil asesmen kami, bencana longsor kemungkinan besar disebabkan alih fungsi lahan, dari hutan menjadi kebun palawija, yang kemudian dipicu curah hujan yang sangat tinggi," jelasnya.
Wilayah perbukitan Arjasari sebenarnya sudah dikenal rawan. Konturnya curam, tanahnya mudah bergerak. Dulu, akar-akar pohon di hutan berfungsi sebagai penahan alami. Kini, setelah beralih jadi kebun palawija, struktur itu hilang. Tanah pun kehilangan ikatannya.
Jadi, ketika hujan deras mengguyur dalam beberapa hari terakhir, pemicu terakhir itu datang. Tebing yang sudah rapuh akhirnya ambruk.
Pencarian ketiga korban yang masih hilang terus digenjot. Di sisi lain, bantuan untuk warga yang terdampak juga mengalir. Situasinya masih tegang, tapi upaya pertolongan tak berhenti.
Artikel Terkait
Trump Klaim Capai Kesepakatan Fantastis Soal Greenland, Tapi Detailnya Masih Samar
31 Keluarga Bertahan di Antara Makam, Satpol PP Kirim Peringatan Kedua
Anggota DPR Soroti Lubang Besar Sistem Perlindungan Anak Usai Tragedi 25 Siswa SD Serpong
Presiden Prabowo Tiba di Zurich, Siap Pimpin Pidato di Panggung Elite Davos